Bangsa Minahasa

Setiap bangsa yang ingin mempertahankan jati dirinya, harus menghargai warisan suci tradisi dan budaya dari para leluhurnya; Kita (bangsa Minahasa) harus memelihara dan mempertahankan tradisi dan budaya bangsa Minahasa dengan segenap kemampuan dan semangat, karena semangat itu sendiri tidak lain mengandung tradisi dan budaya Minahasa. (Dr. Sam Ratulangi: Fikiran - 31 Mei 1930)

Saya tidak akan mempermasalahkan apakah keberadaan bangsa kami Minahasa disukai atau tidak, karena itu adalah permasalahan teoritis. Bagi saya dan bangsa saya Minahasa, sudah jelas, bahwa kami memiliki hak untuk eksis.
Jadi, tugas kami adalah bagaimana menjamin kelanjutan eksistensi bangsa Minahasa ini, dan sedapat mungkin memperkecil penetrasi asing. Kami berusaha untuk merumuskan suatu tujuan yang sesuai dengan kecenderungan-kecenderungan rakyat kami dalam menjalankan tugas tadi. Dan agar usaha-usaha kami itu dapat diterima dan dihargai, kita perlu mengenal hal-hal yang mendasarinya, yaitu: posisi Minahasa selama ini terhadap negara-negara sekitarnya.
("Het Minahassisch Ideaal" / Cita-cita Minahasa oleh DR. GSSJ Ratu Langie, ‘s-Gravenhage, Belanda - 28 Maart 1914)

Sabtu, 25 Oktober 2008

Pahlawan Bangsa Minahasa: Menumpas Perang Jawa (1825-1830) - Menangkap Pangeran Dipa Negara (Diponegoro)

Naskah di bawah ini adalah tulisan rintisan untuk maksud penulisan buku dengan judul yang sama.
Anda diperkenankan mengutip/menyalin tulisan ini dengan memperhatikan hak cipta, demi hormat dan kemuliaan Bangsa Minahasa.

Pahlawan Bangsa Minahasa: Menumpas Perang Jawa (1825-1830) - Menangkap Pangeran Dipa Negara (Diponegoro) tanggal 28 Maret 1830.


Baris atas: Majoor Tololiu H.W. Dotulong (Sonder), Kapitein Benjamin Th. Sigar/Tawalijn (Langowan), Kapitein Hendrik Werias Supit (Tondano)
Baris 2: Kubur T.H.W. Dotulong di Tounelet-Sonder, kubur B.Th. Sigar di Langowan, kubur H.W. Supit di Tondano-Toulimambot
Baris 3: Groot-Majoor Bintang T.H.W. Dotulong sebelum meninggal, T.H.W. Dotulong masih muda, kubur Luitenan Thomas Poluakan di Talikuran-Kawangkoan
Baris akhir: Sekelompok pejuang muslim yang dipecundangi orang Minahasa (dengan menangkap/mengalahkan kesaktian mereka oleh para PAHLAWAN NASIONAL BANGSA MINAHASA), namun akhirnya merekalah yang mempecundangi orang Minahasa (dengan menjadikan PAHLAWAN NASIONAL BANGSA INDONESIA); Pangeran Diponegoro/Dipa Negara, Kiay Modjo, Tuanku Imam Bonjol.

Majoor Bintang Tololiu Hermanus Wilhelm Dotulong
L: Kema, 12 Januari 1795
M: Sonder, 18 November 1888


Majoor Benjamin Thomas Sigar (Tawalijn Sigar)
L: Langoan, 1790
M: Langowan, 1879

Majoor Hendrik Werias Supit
L: Tondano-Toulimambot, 1802
M: Tondano-Toulimambot, 1865

Klewang Majoor Bintang Tololiu H.W. Dotulong
Bode Talumewo memegang klewang milik Mayoor Bintang Tololiu H.W. Dotulong di Sonder,
pada 1 Oktober 2008 lalu.

Bode Talumewo di kubur Mayoor T.H.W. Dotulong di Sonder, 2 Oktober 2008.

Samua ini bukang for mo ba cari pokos-pokos (jimat). Ini cuma ekspedisi for mo cari torang pe Minahasa pe tuur deng mo cari torang pe jati diri sebagai Tou Minahasa - BANGSA MINAHASA, for mo cari torang pe kebanggaan sebagai Tou Minahasa - BANGSA MINAHASA!


===================================================================
"Tabea Waya!
Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawan, kisah dan kedudukan kaumnya di sepanjang masa!
Minahasa adalah bangsa yang basar!
Karena itu hargai akang torang pe Dotu-dotu deng samua yang dorang kase tinggal for torang!
Pakatuan wo pakalawiren!
Sa esa cita sumerar cita, sa cita sumerar esa cita! Kalu torang bersatu torang musti bapencar, biar lei torang bapencar torang tetap satu!
I Yayat U Santi!"
===================================================================

28 komentar:

  1. Groot-Majoor Tololiu Hermanus Willem Dotulong, lahir di Kema, 12 Januari 1795 dan meninggal di Sonder, 18 November 1888. Ia adalah cece dari Xaverius Dotulong, seorang sahabat Gubernur Maluku. Xaverius Dotulong adalah salah satu pemimpin dari suku Tonsea yang berkedudukan di Kema kini. Saat berkomunikasi dengan Gubernur Ternate Robertus Padtbrugge, Xaverius Dotulong menggunakan bahasa Melayu yang ternyata sudah banyak digunakan oleh pedagang-pedagang yang berdagang di wilayah nusantara. Xaverius Dotulong adalah anak dari Runtukahu Lumanauw yang tinggal di Kema dan merintis pembangunan tempat ini. Tololiu Dotulonglah yang memimpin pasukan Tulungan dari Fort Amsterdam di Manado yang terdiri dari sekitar 1200an orang Minahasa yang membantu Belanda membasmi Perang Jawa (Perang Diponegoro) yang berlangsung pada tahun 1825-1830. Pasukannyalah yang diberi tugas untuk menangkap Pangeran Diponegoro. Atas keberhasilannya menangkap Pangeran Diponegoro, pihak dari pemerintah Belanda menganugerahkannya sebuah pedang atau klewang sebagai tanda anugerah kehormatan.

    BalasHapus
  2. salah satu antek2 belanda ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Woiiii Dasar mental kalah emang kayak gitu ngomongnya. emang lo orang tertindas yah! HAHAHAHAHA

      Hapus
    2. Dasar kamu orang bermental pecundang, yg hidup "Nerimo Ajah Seng Penting Aman" untuk dijajah dan ditindas alias tidak mendapat penghargaan dari bangsa lain, bahkan mau saja dipaksa kerja berat (atau mati disiksa) dari mulai Rodi sampai Romusha!!
      wkwkwkwkwkwkwkkkk....

      Hapus
  3. pangeran diponegoro kalah karena ditipu dan Groot-Majoor Tololiu Hermanus Willem Dotulong sebagai umpan kalian seharusnya bangga jadi bangsa INDONESIA , bangsa mandiri

    BalasHapus
  4. Ingat berkat kecerdikan Belanda dengan menggunakan sisat devide et impera sajalah, maka hal ini terjadi. Jangan salahkan Pasukan Tulungan, karena pada saat itu mereka tidak tahu mana kawan dan mana lawan, mereka hanya dipergunakan kekuatannya untuk mengalahkan Pasukan Diponegoro.

    BalasHapus
  5. Kebebasan berbicara dan kebebasan mencari jati diri dihargai memang di negeri ini. Bangga dengan nenek moyang masing-masing juga dihargai di negeri ini. Bukan cuma bangsa Minahasa yang dimanfaatkan Belanda saat itu, tapi juga bangsa Ambon, Madura dan Jawa dipecundangi Belanda untuk melawan saudaranya sendiri, karena saat itu belum ada "nation Indonesia", yang barulah pada tahun 1928 muncul "embrio kebangsaan Indonesia" dengan komitmen Sumpah Pemuda. Wajar jika sebelum tahun 1928 masing-masing "bangsa" tidak melihat "bangsa" lainnya sebagai saudaranya sendiri, dan Belanda dengan liciknya memanfaatkan situasi "KEBANGSAAN" nenek moyang kita saat itu untuk mempertahankan eksistensinya di nusantara sampai 350 TAHUN!!.... Semoga tetap jayalah Indonesia Raya tercinta ini dengan keagungan dan keberagaman suku bangsanya......

    BalasHapus
  6. Suku manapun tidak mau dijajah, Di dunia ini tidak ada suku bangsa yang sakti ataupun manusia yang tidak akan binasa mau kiyai pendekar, jawara, tonaas, warog, sultan, raja dll sudah kodrat dan garis dari Yang Maha Kuasa. maksud elmu dan kesaktian-kesaktian itu diwariskan nenek moyang untuk membela tanah air dan mempersatukan bangsa. Jadi suku Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Ambon dan Papua banggalah memiliki warisan adat elmu dan kesaktian masing-masing karena masing-masing perwakilan sudah teruji di kesultanan Banten waktu dulu.

    BalasHapus
  7. Tetap biar bgmna Minahasa lebeh keras dari suku-suku laeng.

    BalasHapus
  8. Dulu masih era expedisi mencari wilayah baru. Siapa yang menjajah dan siapa yang dijajah hanya masalah persepsi. Jawa saat itu merasa dijajah, tapi minahasa tidak. Buktinya banyak bangunan seperti rumah sakit, tempat ibadah dan sekolah dibangun Belanda. Sekarang, banyak bangunan justru telah dibakar oleh kelompok ekstrim bangsa sendiri. Kaum minoritas mendapat perlindungan dari bangsa pendatang, tapi pernah dan mungkin saat ini masih dikucilkan oleh bangsa sendiri. Mana yang lebih banyak korupsinya? Anak negeri ataukah bangsa "Penjajah"?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo gak mau jadi orang indonesia, kelaut aja...
      makan masih dari indonesia.
      dasar antek penjajah.
      kalo otak sudah terjajah, susah sadarnya.

      Hapus
    2. Hahahaha.. Lu yg maunya di bodohi pusat..
      Semua sumberdaya alam di berbagai daerah di indon di ambil trz bayar utang keluar negeri, di pusat daerah makin maju di daerah lain makin ancur..
      Pembodohan skligus penjajahan..
      i yayat u santi..

      Hapus
  9. Jangan karena membaca sejarah ini trus dijadikan permusuhan antar suku tp marilah kita memandang ke depan ke arah yg lebih cerah.sejarah adalah bagian dari proses yg bernilai dan bukan sebagai antipati.apapun alasannya moyang kami telah menunjukkan kegigihan dalam bertahan hidup,toh tercapai juga kemerdekaan Indonesia dan bukan hanya suku2 atau agama tertentu yg menjadi pelaku perjuangan Indonesia.terima kasih-Xaverius Runtukahu Demus,spanyaards gart kema

    BalasHapus
  10. ...lu bangga jadi antek2 belanda..jadi anjing peliharaan belanda kok bangga.orang minahasa itu gampang ditaklukan..buktinya mau aja dijadiin anjing dan antek belanda...makanya banyak orang kristen disana...karena gampang ditaklukan belanda..lihatlah aceh yang masyarakatnya keras dan tidak mau dijajah..mereka berperang dengan belanda..beda dgn orang minahasa yang dgn mudahnya jadi anjing belanda haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jgn asal omong,, kenapa BangsaMinahasa menjadi Anak Emas nya Belanda???
      Karna dlu waktu Spanyol&Portugis masuk di Minahasa, rakyatk adat minahasa tdk menyutujui & terjadilah perang, Bangsa Spanyol&Bangsa Portugis mengalami kekalahan Telak sehingga mereka mundur ke filipina&maluku. Makadari itu Bangsa Belanda tdk mau sembarang bertindak atas BangsaMinahasa karna telah melihat kekalahan 2Bangsa Eropa tersebut maka Bangsa Belanda melakukan Perjanjian dgn BangsaMinahasa yg akan selalu menjaga Para Walak/Ukung Minahasa&Jikalau Belanda memerlukan bantuan maka Bangsa Minahasa akan membantu..
      i yayat u santi..

      Hapus
  11. Kalau kalian tidak suka hidup di NKRI silahkan kalian memisahkan diri...buat Ultimatum seperti Gerakan Aceh Merdeka ataupun OPM Papua...mereka sudah punya Bendera Sendiri,Punya Mentri Sendiri...mereka berjuan Baik Fisik atau Diplomasi...lihatlah Pasukan GAM Asih bergentayangan di Aceh..begitu juga OPM Papua sampai sekarang masih Ada...mereka adalah sekeras2nya watak manusia....apalagi Aceh yang dari zaman penjajahan melawan Belanda bahkan sampai sekarang mereka memusuhi Republik Indonesia dengan Membentuk Negara Aceh Merdeka...kalian Minahasa banyak Bacot...sudah jelas2 Pahlawan bagi kalian itu adalah Anjing2 peliharaan penjajah...karena Watak Bangsa Kalian Minahasa Yang Mudah Diajak kompromi/kerjasama dengab belanda...Cut Nyak dien,Pangeran Diponegoro,Tuanku Imam Bonjol adalah Tokoh2 Pahlawan Bangsa Yang Keras dan tidak mau Kompromi dengan Belanda...beda dgn yang kalian Anggap Pahlawan...mereka tidak lebih dari ANJING DAN ANTEK PENJAJAH haha..

    BalasHapus
  12. Yang kalian anggap Pahlawan2 dari minahasa itu tidak lebih dari anjing dan penjilat belanda....haha....

    BalasHapus
  13. Omong kosong, Indonesia belum ada saat itu,..
    Indonesia baru ada tahun 45,..
    Memangnya kalian pikir kalau Diponegoro menang perang jawa, dia akan bikin NKRI?
    Kalau Diponegoro dan "pahlawan-pahlawan" lokal lainnya tidak di tumpas, tidak akan ada yang namanya NKRI.
    Kalau saat itu orang minahsa menbiarkan jawa meberontak, sekarang pasti mereka udah jadi Republik Minahasa

    BalasHapus
  14. Kalian lah yang omong kosong karena jiwa raga kalian memang sudah terbiasa tunduk dan mau jadi anjing Holland..jiwa dan raga kalian bisa dibeli oleh holland...pantas saja para missionari belanda menjadikan daerah kalian tempat yang subur untuk penyebaran kristen...Pangeran Diponegoro,Imam Bonjol,Cut nyak Dien pantang untuk jadi Pengikut dan penghamba Belanda...makanya dulu belanda sampai menugaskan Snock Hugronye utk menyusup dan menyamar menjadi muslim utk mempelajari kelemahan pribumi

    BalasHapus
  15. Karena saking kewalahan dan kerasnya perlawanan mereka,belanda menggunakan cara2 licik dan penuh tipuan2 dan pengkhianatan...kalau kalian mau bikin republik minahasa dan keluar dari NKRI ya silahkan saja...itu hak kalian..sifat chauvinisme kalian dengan membangga2kan suku kalian yang jelas2 menjadi Antek2 Belanda pada saat itu...ialah Naif sekali..apalagi mengatakan dengan bangganya menumpas Para Pahlawan yang jelas2 Diakui NKRI sebagai Pahlawan Nasional...itu menandakan Orang Minahasa itu banyak OMONG KOSONG dan OTAKNYA PENUH KOTORAN ANJING DAN BABI..KARENA KALIAN KEBANYAKAN MAKAN ANJING DAN BABI.

    BalasHapus
  16. sejatinya, Pahlawan dan pengkhianat itu tak pernah ada dalam sejarah. Yang ada semua manusia adalah pejuang bagi diri dan kaumnya....pahlawan dan pengkhianat itu hanya perkara politis
    Bagi saya, jelas Dotulong bukan pengkhianat, karna dia tidak pernah mengkhianati kepercayaan NKRI (karna NKRI dan Indonesia sendiri belum ada)! Nah pengkhianat itu macam pejabat korupsi yag tidak bisa menjaga kepercayaan....
    perkara waktu itu, Datulong dan pasukannya waktu itu melakukannya karena bersahabat dengan Belanda.... Bagi saya persahabatan itu wajar...kita tahu Indonesia terpecah2 dan kesadaran nasional kan belum ada... Gak adil kalo mengatakan Dotulong pengkhianat Indonesia!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali jadi perjuangan saat itu masih bersifat kedaerahan yang artinya masih mementingkan daerah nya sendiri jadi jika dotulong di bilang penghianat indonesia itu tidak bisa karna saat kejadian itu terjadi kebangkitan nasional saja belum ada

      Hapus
  17. jelas benar pada saat itu indonesia belum ada dan bahkan sang pelopor revolusi jg belum lahir. dan juga jelas minahasa cara berfikir sudah sangat maju kedepan. yg minahasa lakukan hanya untuk mengembangkan negri minahasa dan mensejahtrakan negri pada saat itu untuk merbisnis dan bersekutu dan nyatanya minahasa unggul dari penegakan hukum dan keselarasan umat beragama dan moral.
    siapa yang bisa jamin di jaman itu ada sumpah pemuda yg sekarang ini indonesia.
    memajukan dan mensejahtrahkan negri itu nomor satu bung.
    nyatanya sekarang siapa yg banyak jadi pejabat banyak orang non minahasa apakah mereka mensejahtrakan Indonesia apakah mereka tidak bersekutu dan tidak menghianati kesejahtrahan rakyat apa hasil prosentase Freeport, epson, Dll.
    Jgn pake komentar bodoh kalo merasa pinter.
    minahasa dari jaman itu sudah berfikir sejahtra dan berbisnis. seperti yang sekarang di tiru Indonesia. : )

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang komen soal pemberontakan jgn bnyak ngoceh klo ga ngerti sejarah otak cetek idiot malah profokatif bangga amat jd pemberontak.
      kita orang minahasa pada waktu itu bukan niat memberontak kita cuma minta diluruskan dan dibersihkan tujuan kemerdekaan NKRI dengan pahamnya PANCASILA. kita hanya pinta 1.Bubarkan PKI Komunis dari NKRI 2.Otonomi pembangunan yang merata disetiap daerah NKRI, ga salah kan.
      kalau tidak dipenuhi ya memisahkan diri karna minahasa tidak merasa dijajah belanda tp ada hubungan bisnis dlm kontraknya dahulu kala.
      maklum pikiran orang minahasa sudah maju kedepan berbisnis untuk majukan negri nyatanya jaman itu minahasa maju broo...
      pemberontak mana yg sekaya PERMESTA punya pesawat tempur pesawat pembom punya alteleri pertahanan udara pokok nya peralatan sudah standar SNI lah kalo sekarang jumlah tentara memng ga banyak tp satu boleh dites berperang broo ;)... ini tidak bohong loh kalo PERMESTA seniat ini alatnya klo harus perang sama pemerintah pusat.akhirnya terjadi juga lah PERANG banyak tentara Pusat Mati sia sia ninggalin anak istrinya ke akhirat tuk belain golongan serakah. Dan dilihat dari tujuan permintaan nya PERMESTA itu banyak tujuan baik untuk ke utuhan NKRI. Dan juga diluar dugaan mempunyai strategi perang yg jempol kombinasi juga FUI FUI Tonaas Minahasa pemerintah pusat lebih mikir malah milih merangkul PERMESTA dgn bukti semua tentara permestan di rekrut jadi tentara TNI kususnya Alteleri dan pertahanan Udara tuhh,...mana ada pemberontak yg di anak emaskan kyak gitu broo PKI abis kelar musna dr bumi NKRI pusatnya di jawa lagi GAM dipretelin abis kocar kacir jd bunglon, GPK Kcing2ngan sekarang di buatnya mending main petak kumpet aja dehh,kibarin bendera dibedil mati dehh. mau tau bendera PERMESTA sang saka Merah Putih benderanya broo masih berkibar sampe sekarang tuhh. sejarah nyata broo ga Bohongan boleh situ cari sumber sejarah PERMESTA. Jgn ga ngerti sejarah asal ngebacot bodoh tolol idiot ko di umbar2 itu pasti provokator

      Hapus
  18. Cobalah memahami semua itu dengan lebih arif dan bijaksana ( i hope all of you smart enough) dalam politik itu tidak ada kawan abadi atau musuh abadi yg ada hanya kepentingan abadi seperti ditunjukkan partai-partai di DPR sana yg sampai saat ini pun setelah 70 tahun kita merdeka tetap saja saling ber perang dan bersiasat utk kepentingan golongan/partainya masing-masing.
    Nah jadi tidak relevan utk men "judge" /menghakimi atau mengklaim leluhur siapa lebih hebat atau lebih benar atau leluhur siapa yg salah dan penghianat. karena waktu itu memang belum ada NKRI.
    .lihat saja contoh di makassar sana sekitar 400th lalu Arung palakka(sultan bone) berjuang melawan kesultanan gowa utk merdeka dan dia berhasil. dan sampai sekarang dia tetap dianggap pahlawan oleh rakyat bone karena berhasil memerdekakan rakyatnya dari kesultanan gowa...sekalipun dibuku2 sejarah NKRI dia dianggap penghianat oleh karena bersekutu dgn belanda dlm perjuangannya. simpel saja toh baginya yg menjajah bone itu gowa bukan belanda. (baca wikipedia utk jelasnya. seorang yg menghancurkan perlawanan rakyat minang..kepala preman di batavia..dan orang kedua yg berpengaruh di VOC dijaman itu..)....dan sekarang Patungnya berdiri megah ditengah kota watampone !!!!!!
    dibandingkan dgn orang ini penghargaan org minahasa terhadap Dotulong belumlah apa2. jadi jangan gusarlah utk mereka yg di tanah jawa.
    saya sebagai org keturunan minahasa yg lahir dan besar di jawa/jakarta (sdh 3 generasi) hanya menghimbau agar kita semua bisa lebih bijaksanalah menyikapi sejarah. jangan set-back atau mundur kembali ke waktu sebelum sumpah pemuda. toh sejak sumpah pemuda sampai kemerdekaan ada juga tokoh-tokoh asal minahasa yg terlibat aktif membidani republik ini (AA Maramis, Babe Palar dkk).
    Kalau perkara Permesta toh sdh selesai dan di provinsi lain juga ada yg demikian....jadi kalau ada org minahasa mengidolakan leluhurnya itu sah2 saja. di daerah lain juga begitu..
    hehehe anggap saja mereka sedang nostalgia sama spt aku waktu kecil dulu suka dengar cerita2 opa tentang opo dotulong dan pasukannya yg hebat itu (mungkin kita pe'opa so tamba bumbu-bumbu biar lebe hebat tu carita kang.. terutama bagian fui-fui.. catatan belanda bilang dorang da nae kapal pigi di tana jawa. maar ta'pe opa bilang dorang cuma da pake dambek.. apa lei tu dambek kita lei so lupa. mungkin pelepah kelapa )

    BalasHapus
  19. Waduh..kok jadi debat kusir nih..lucu ya..ini yang salah bukan komentator nih..yang salah judul dari cerita sejarah ini..dengan gagah bangga menulis hebatnya leluhur minahasa bisa menangkap dan menumpas beberapa pahlawan nasional..jangan terhasut dengan judul bro..jangan2 yang tulis judul sperti diatas turunan/faham yahudi yang memang hobynya menghasut dan adu domba..back to NKRI bro..

    BalasHapus