Bangsa Minahasa

Setiap bangsa yang ingin mempertahankan jati dirinya, harus menghargai warisan suci tradisi dan budaya dari para leluhurnya; Kita (bangsa Minahasa) harus memelihara dan mempertahankan tradisi dan budaya bangsa Minahasa dengan segenap kemampuan dan semangat, karena semangat itu sendiri tidak lain mengandung tradisi dan budaya Minahasa. (Dr. Sam Ratulangi: Fikiran - 31 Mei 1930)

Saya tidak akan mempermasalahkan apakah keberadaan bangsa kami Minahasa disukai atau tidak, karena itu adalah permasalahan teoritis. Bagi saya dan bangsa saya Minahasa, sudah jelas, bahwa kami memiliki hak untuk eksis.
Jadi, tugas kami adalah bagaimana menjamin kelanjutan eksistensi bangsa Minahasa ini, dan sedapat mungkin memperkecil penetrasi asing. Kami berusaha untuk merumuskan suatu tujuan yang sesuai dengan kecenderungan-kecenderungan rakyat kami dalam menjalankan tugas tadi. Dan agar usaha-usaha kami itu dapat diterima dan dihargai, kita perlu mengenal hal-hal yang mendasarinya, yaitu: posisi Minahasa selama ini terhadap negara-negara sekitarnya.
("Het Minahassisch Ideaal" / Cita-cita Minahasa oleh DR. GSSJ Ratu Langie, ‘s-Gravenhage, Belanda - 28 Maart 1914)

Senin, 16 November 2009

Galeri Foto Minahasa: Buku-buku tua tentang Minahasa


Aasaren Tuah Puhuhna ne Mahasa - oleh J.G.F. Riedel (anak penginjil J.F. Riedel) terbitan Betawih (Batavia) tahun 1870.
Buku ini adalah terjemahan bahasa Toumbulu dari buku Inilah Pintu Gerbang Pengatahuwan Itu: Apatah dibukakan bagi Padodukh Minahasa - Hhikajatnja Tuwah Tanah Minahasa (Inilah Pintu Gerbang Pengetahuan: Sejarah Purba Tanah Minahasa) terbitan tahun 1862.

Inilah Kitab deri hal Tanah Minahasa - oleh Ds. Nicolaas Graafland, terbitan M. Wajt di Rotterdam tahun 1874.
Ini adalah buku teks/bacaan pelajaran Geografi Minahasa untuk anak-anak sekolah di Minahasa masa awal.


Tontemboansche Teksten Jilid I oleh Jan Albert Traugott Schwarz (anak penginjil JG Schwarz) cetakan E.J. Brill Leiden tahun 1907.
Buku ini ada 3 jilid: Jilid I Teks cerita rakyat berbahasa Tountemboan, Jilid II Vertaling terjemahan cerita2 itu dlm bahasa Belanda, Jilid III merupakan penelaahan cerita-cerita rakyat jilid I tersebut.

Sedjarah Minahasa - oleh Frans Sumampouw Watuseke, terbit pertamakali di Manado tahun 1962.

Ancient Art of Minahasa - oleh Hetty Palm terbitan tahun 1952 dan tahun 1961, serta terjemahannya Oude Minahassische Kunst.

Nasionalisme & Regionalisme dalam Konteks Regional: Minahasa di Hindia Belanda bagian Timur - oleh David Henley (disertasi). Terjemahan diselenggarakan oleh Perpustakaan Minahasa AZR Wenas dari buku Nationalism & Regionalism in a Colonial Context: Minahasa in the Dutch East Indies.
Mengulas perkembangan pergerakan nasionalisme ala Minahasa (nasionalisme Minahasa dan nasionalisme pribumi/Indonesia) sepanjang masa sejak 1600-an hingga Permesta 1960an.

Galeri Foto Minahasa: Buku Adatrechtbundel III (Minahasa) 1911

Buku Adatrechtbundel III (Minahasa) 1911.
Buku bundel Hukum Adat III Hindia-Belanda yang membahas mengenai Hukum Adat Minahasa, terbit tahun 1911. Dikumpulkan dan dirangkumkan oleh masing-masing Mayoor/Hukum Besar (Camat/Wedana/Bupati masa lalu) di setiap Distrik (ex Walak, kemudian menjadi Kecamatan, sekarang mungkin sejajar dengan sebuah kabupaten/kota).

Galeri Foto Minahasa: Evert Langkay-Jan Rappar & No' Korompis 19

Komandan Pertahanan Laskar KRIS di Jawa:
Letkol Evert Langkay - Komandan Pertahanan KRIS
Mayor Jan Rappar - Wakil Komandan

Dua-dua adalah ex pimpinan gang/preman Batavia yang saling bermusuhan.
Sampe prang lei dorang dua masih jababakalae.

Profil seorang pemberontak: No' Korompis.
Seorang pejuang kemerdekaan Indonesia - pejuang Merah Putih 1946.
Dia dan kawan-kawan merasa dilecehkan dan disakiti hingga membentuk barisan sakit hati yang menuntut keadilan terhadap eks pejuang kemerdekaan RI dari Sulut, bernama Pasukan Pembela Keadilan (PPK). Mulanya dipimpin oleh Sam Mangindaan, namun gugur tahun 1951 dibunuh tentara dari pusat. Setelah itu pimpinan beralih ke No Korompis hingga tahun 1953/54. Setelah No Korompis menyerahkan diri (menyerahkan diri 4x, namun diburu oleh pasukan berlainan, a.l. TNI-AD, polisi, Mobrig, dll), PPK dipimpin oleh Jan Timbuleng hingga pecah Pergolakan Permesta 1958.

Galeri Foto Minahasa: Pengurus Komite Ketatanegaraan Minahasa (KKM) 1949

Pengurus Komite Ketatanegaraan Minahasa (KKM) 1949Pengurus Komite Ketatanegaraan Minahasa (KKM) 1949
Sebuah komite yang terdiri dari beberapa partai politik & organisasi sosial yang memperjuangkan agar Minahasa menjadi sebuah Negara-Bagian Minahasa, terpisah dari Negara Indonesia Timur (NIT) di Republik Indonesia Serikat (RIS) yang digagas Soekarno-van Mook di Konferensi Meja Bundar.
(Makase om Ben Wowor for nama-nama yg ada di foto ini) .

Minggu, 08 November 2009

Galeri Foto Minahasa: Peta Minahasa/Manado 1541

Peta Nicolas Desliens tahun 1541 adalah peta yang diketahui para sejarawan Minahasa sebagai peta tertua yang memuat nama "Manado" untuk pertama kali. Tampak 'Manado' berada di laut (jadi adalah pulau). Ini berarti 'Manado' dahulunya adalah pulau Manado-tua, tempat Kerajaan Manado bertahta (Kedatuan Babontehu, sekarang etnis Babontehu).

Galeri Foto Minahasa: Situs Opo Dotulong Di Marunda Jakarta Utara

Situs Patilasan Opo Dotulong Di Marunda Jakarta Utara
(Koleksi Steve Joseph)

Sebelum berangkat ke Manado, konon Mayor Tololiu Dotulong terluka parah padahal hanya luka goresan kecil. Kong dia ba timbun di dalam tanah, kong bae. Di tampa itu badiri tu di bawah ini. Konon, pahlawan Betawi, Si Pitung, meminta ilmu kebal di tempat ini. Tidak jauh dari sini ada rumah si Pitung yang desain mirip rumah adat Minahasa. Konon pula Si Pitung adalah penjaga situs ini.

Marunda artinya 'daun parundak':
Konon pula, Tololiu Dotulong, ato Letnan Willem Walewangko, ato Kapten Sondak Palar waktu blayar dari Manado ke Perang Jawa, cuma nae daun pelepah kelapa/nyiur (parundak) dan mendarat di tempat ini, sehingga dinamakan Parundak, Marundak, Marunda.






Galeri Foto Pribadi: Dialog Lanjutan Memerdekakan Tou Minahasa 4 Sept 2009

Dialog Lanjutan Memerdekakan Tou Minahasa di Watu Pinawetengan
4 September 2009 pukul 16.00-19.00

Kiki Tandayu at home.

Pesan dari Institut Seni Budaya Sulut (ISBSU) di Watu Pinawetengan.

Watu Pinawetengan.

Rombongan dari Sonder dipimpin Carlos Pesik.

Purnama di atas danau Tondano.

Bulan purnama di ufuk timur Watu Pinawetengan.

Diskusi di aula Watu Pinawetengan.
Rombongan dari Sonder dipimpin Carlos Pesik.

Diskusi di aula Watu Pinawetengan.

Foto bersama setelah diskusi di aula Watu Pinawetengan.

Bulan purnama di atas Watu Pinawetengan.

Singgah di rumah Kiki Tandaju di desa Pinabetengan Utara.


Sabtu, 17 Oktober 2009

Galeri Foto Minahasa: Kongres Minahasa Raya II thn 2001

Presiden KH Abdurrachman Wahid (Gus Dur) dalamm Kongres Minahasa Raya II tahun 2001

Galeri Foto Minahasa: Seminar Otonomi Daerah 3 Provinsi Sulut di Gran Puri

Seminar Otonomi Daerah Pemekaran 3 Provinsi Sulut
di Hotel Gran Puri - Ranotana Manado
19 Juni 2009


Pemateri.

Dolfie Maringka sedang berbicara.

K.H. Arifin Assegaf: tiada rotan, akar pun jadi; tiada musolah, ruang bilyar pun jadi tempat solat.

K.H. Arifin Assegaf: tiada rotan, akar pun jadi; tiada musolah, ruang bilyar pun jadi tempat solat.

Pemateri & sebagian peserta seminar.

Pemateri & sebagian peserta seminar.

Bode si peserta seminar.

Galeri Foto Minahasa: Hari Adat Intl - Brigade Manguni & Komando Adat Dayak Kalimantan


Perayaan Hari Adat Internasional
oleh Brigade Manguni & Komando Adat Dayak Kalimantan
di Bukit Inspirasi 09 Agustus 2007

Suasana acara

Tokoh2 adat KDayak Kalimantan & Tonaas BM Kalimantan, Farry Malonda, serta Tonaas RM Luntungan.

Tokoh2 Majelis Adat Dayak Kalimantan & Komando Adat Dayak Kalimantan

Tokoh2 Majelis Adat Dayak Kalimantan

Tonaas BM Kalimantan, Farry Malonda, serta Tonaas RM Luntungan.

Tonaas RM Luntungan & Tokoh Adat Dayak - Gubernur Kaltim mencicipi cap tikus.

Tonaas BM Borneo Farry Malonda & Tokoh Adat Dayak - Gubernur Kaltim mencicipi cap tikus.

Perempuan Dayak dgn busana tradisional.

Pagelaran seni kabasaran.

Penari kabasaran/cakalele/mahasasau Minahasa.

Penari kabasaran/cakalele/mahasasau Minahasa.

Komando Adat Dayak Kalimantan.

Tonaas (Wangko) BM Decky Maengkom & Farry Malonda dgn Gubernur Kaltim.

Galeri Foto Minahasa: Batu Binarisan di Amurang

Batu Binarisan yang so rubuh di Amurang, 8 April 2007.
Konon batu ini adalah batu perjanjian perbatasan antara Minahasa dan Kerajaan Bolaang Mongondow (Raja Loloda Mokoagow/Datu Binangkang).

Jumat, 25 September 2009

Galeri Foto Minahasa: Sail Bunaken 2009 - Indonesian Fleet Review 2009

Sail Bunaken 2009.

Sail Bunaken 2009.

Sail Bunaken 2009.

Laksma TNI-AL Willem Rampangilei, Komandan Pangkalan Utama TNI-AL (
Dan Lantamal) VIII Bitung.
Drs. Sinyo H. Sarundajang, Gubernur Sulawesi Utara.

Gubernur Sulut dalam Pemecahan Rekor Dunia - Guiness World of Record
Penyelam Terbanyak 1500 orang (2861 ? orang).
(Foto: courtesy Media Center Sail Bunaken 2009).

Pemecahan Rekor Dunia - Guiness World of Record
Penyelam Terbanyak 1500 orang (2861 ? orang).

(Foto: courtesy Media Center Sail Bunaken 2009).

Acara di court Blue Banter, Boulevard Manado.

Yacht peserta Sail Bunaken 2009 di Pelabuhan Bitung.
(Foto: courtesy Media Center Sail Bunaken 2009).

(Foto: courtesy Media Center Sail Bunaken 2009).

Parade Kapal induk USS George Washington (CVN 73) di Teluk Manado menyemarakkan Indonesian Fleet Review 2009.
(Foto: courtesy Media Center Sail Bunaken 2009).

Parade Kapal induk USS George Washington (CVN 73) di Teluk Manado menyemarakkan Indonesian Fleet Review 2009.
(Foto: courtesy Media Center Sail Bunaken 2009).

Parade Kapal induk USS George Washington (CVN 73) di Teluk Manado menyemarakkan Indonesian Fleet Review 2009.
(Foto: courtesy Media Center Sail Bunaken 2009).

Parade Kapal induk USS George Washington (CVN 73) di Teluk Manado menyemarakkan Indonesian Fleet Review 2009.
(Foto: courtesy Media Center Sail Bunaken 2009).

Kapal induk USS George Washington (CVN 73), flagship Armada Ketujuh AS,
mengarungi Teluk Manado (Foto: Melisa Masengi, Facebook).

Parade kapal perang asing di Teluk Manado menyemarakkan Indonesian Fleet Review 2009.

Parade kapal perang asing di Teluk Manado menyemarakkan Indonesian Fleet Review 2009.
(Foto: courtesy Media Center Sail Bunaken 2009).

Parade kapal perang asing di Teluk Manado menyemarakkan Indonesian Fleet Review 2009.
(Foto: courtesy Media Center Sail Bunaken 2009).

Parade kapal perang asing di Teluk Manado menyemarakkan Indonesian Fleet Review 2009.

Parade kapal bertiang tinggi di Teluk Manado menyemarakkan Indonesian Fleet Review 2009.
(Foto: courtesy Media Center Sail Bunaken 2009).

KRI Arung Samudera berpartisipasi dalam Sail Bunaken 2009 - Indonesian Fleet Review 2009 di Teluk Manado & Pelabuhan Bitung (Foto: Melisa Masengi, Facebook).

KRI Dewa Ruci berpartisipasi dalam Sail Bunaken 2009 - Indonesian Fleet Review 2009 di Teluk Manado & Pelabuhan Bitung (Foto: Melisa Masengi, Facebook).

Parade yacht di Teluk Manado menyemarakkan Indonesian Fleet Review 2009.

Parade yacht di Teluk Manado menyemarakkan Indonesian Fleet Review 2009.

Kapal induk USS George Washington (CVN 73), flagship Armada Ketujuh AS,
mengarungi Teluk Manado.

Kapal induk USS George Washington (CVN 73), flagship Armada Ketujuh AS yang menghadiri Sail Bunaken 2009 - Indonesian Fleet Review 2009, berlabuh di sekitar pulau Lembeh, menuju Teluk Manado.

Kapal induk USS George Washington (CVN 73), flagship Armada Ketujuh AS yang menghadiri Sail Bunaken 2009 - Indonesian Fleet Review 2009, berlabuh di sekitar pulau Lembeh, menuju Teluk Manado.

Kapal induk USS George Washington (CVN 73), flagship Armada Ketujuh AS yang menghadiri Sail Bunaken 2009 - Indonesian Fleet Review 2009, berlabuh di sekitar pulau Lembeh, menuju Teluk Manado.

Galeri Foto Minahasa: HUT Berlian - 75 Tahun GMIM (30 Sept 1934 - 30 Sept 2009)

Evangelistenschool te Tomohon in de Minahasa 1890
Sekolah Penolong Injil di Tomohon tahun 1890.

Kunjungan Gubernur Jenderal Hindia Belanda de Jonge tanggal 30 Sepetemner 1934 ke Minahasa.
Saat Gubernur Jenderal meninggalkan kediaman Residen Manado, menuju Tomohon, meresmikan berdirinya GMIM (Minahasische Kerk).

Gubernur Jenderal Hindia Belanda de Jonge memasuki halaman Gereja Sion Tomohon untuk memulai ibadah pentahbisan berdirinya Geredja Masehi Indjili (di) Minahasa atau
Minahasische Kerk pagi/siang hari tanggal 30 September 1934.

Kitab Peringatan perihal perajaan Pendirian Geredja Protestant Minahasa (Buku Panduan Pendirian GMIM) tanggal 30 September 1934.

Kitab Peringatan perihal perajaan Pendirian Geredja Protestant Minahasa (Buku Panduan Pendirian GMIM) tanggal 30 September 1934.

Kitab Peringatan perihal perajaan Pendirian Geredja Protestant Minahasa (Buku Panduan Pendirian GMIM) tanggal 30 September 1934.
Atoeran kebaktian di gereja Sion Tomohon 30 September 1934.

Kitab Peringatan perihal perajaan Pendirian Geredja Protestant Minahasa (Buku Panduan Pendirian GMIM) tanggal 30 September 1934.
Atoeran kebaktian di gereja protestan Manado 30 September 1934.

Arti logo GMIM

Tahukah anda bahwa logo GMIM meniru lambang Minahasaraad (Dewan Minahasa)????????
Lambang ini baru diperkenalkan tahun 1930.
GMIM mengadaptasinya dengan lambang2 protestan.

Gereja Sion Tomohon tahun 1934.

Gereja Protestant Tomohon (Kerk te Tomohon).
Kemudian berdiri Gereja Sion Tomohon di bagian mukanya.

Gereja Protestant di Tomohon tahun 1920.

Kantor Sinode GMIM pertama tahun 1934.

Ketua Sinode GMIM pertama 1934-1935 Ds. Ernst A.A. de Vreede.

Ketua Sinode GMIM ke-4 tahun 1941-1942: Ds. G.P. Locher.

De Kerkelijke Constituante (Proto-Sinode GMIM) Bakal Synode tahun 1934.
Duduk di tengah: Ds. E.A.A. de Vreede, duduk paling kanan: Hukum Besar Manado G.S. Ruata. Berdiri paling kanan: Ds. A.Z.R. Wenas.

Badan Pekerdja Synode GMIM tahun 1953.
Ketua Sinode Ds. Manuel Sondakh, di kanannya Ds. Joh. Kawengian. Berdiri di kiri belakang (no. 3 dari paling kiri) Ds. A.Z.R. Wenas.

Anggota Badan Pekerja Sinode GMIM tahun 1974.
Ketua Sinode Pdt. R.M. Luntungan.

Struktur organisasi GMIM pasca Perang Dunia II akhir dekade 1940an.

Salah satu gereja di Minahasa tahun 1900 (Koleksi Perpustakaan Minahasa AZR Wenas).

Gereja Zentrum Protestant Manado tahun 1910.

Gereja Sentrum Manado tanggal 3 April 1954.

Koran Warta Berita Djumat Clasis Tomohon No. 1 - 1950.

Perayaan GMIM Bersinode tahun 1955.

Presiden Soekarno menghadiri HUT GMIM Bersinode ke-23 di Gereja Sion tanggal 30 September 1957 waktu Pergolakan Permesta sedang memanas.

Tulisan Ketua Sinode GMIM Pdt. R.M. Luntungan.

Napa dia tu yang beking heboh: Auditorium Bukit Inspirasi.
Foto saat diadakannya Sidang Raya Dewan Gereja2 Indonesia (DGI, sekarang PGI) tahun 1980 (beberapa saat setelah dibangun).

50 Tahun - Yubileum GMIM 1934-1984.

Galeri Foto Minahasa: 141 Tahun Katolik di Minahasa (14 September 1868-2009)

Gereja Kathedral KATOLIK di Manado tahun 1980-an.

Gereja Kathedral Katolik di Jl. Samrat Manado tahun 1930.


Gereja Katolik di Tomohon tahun 1920.

Pastor Lorenzo Garralda
yang dibunuh di Kali (Pineleng) pada Agustus 1644.

Mgr. Dr. G. Vesters
Prefek Pertama di Manado 1919-1923

Mgr. Walter Panis, MSC
Prefek Kedua di Manado 1923-1945

Mgr. N.M. Verhoeven, MSC
Uskup Agung Manado 1961-1969

Mgr. N. Verhoeven, MSC
Uskup Agung Manado 1961-1969


Mgr. Theodorus Moors
Uskup Manado 1969-1980.

Mgr. Walter Panis di Seminari Kakaskasen.

Mgr. Dr. Theodorus Lumanauw
Uskup Agung di Ujung Pandang (Makassar).

Pastor A.M. Domsdorff.

Pastor Hendricus Croonen, MSC pendiri SMA Seminari Fransiskus Xaverius Kakaskasen.

Pastor H. Keet direktur Seminari Kakaskasen.

Pastor Johanes de Vries, SJ
Pembaptis Katolik pertama di Minahasa 1868.

Pastor P.A. Wintjes naik bendi di muka pastoran Tomohon 1905.

Pastor van Velsen & guru-guru Normaalschool Katolik Woloan.


Galeri Foto Minahasa: HUT Bulan September 2009

01-Sept-1929 Prof Dr Adriaan Bernard Lapian

01-Sept-1929 Prof Dr Adriaan Bernard Lapian

01-Sept-1929 Prof Dr Adriaan Bernard Lapian

01-Sept-1929 Prof Dr Adriaan Bernard Lapian

01-Sept-1929 Prof Dr Adriaan Bernard Lapian

01-Sept-1961 Universitas Sam Ratulangi

01-Sept-1961 Universitas Sam Ratulangi (warna)

02-Sept-1912 Freddy Jacques Inkiriwang
Menteri Perindustrian RI.

04-Sept-1937 Dr Martha Tilaar-Handana
Pakar kosmetika,
pemilik Sari Ayu Martha Tilaar

04-Sept-1937 Dr. Martha Tilaar-Handana & Prof. H.A.R. Tilaar

05-Sept-1940 Prof Drs Jan Turang

06-Sept-1916 Estevanus Kandou
Bupati Minahasa 1958-1961

09-Sept-1917 Albert Roeland Saul Daniel (Bart) Ratulangi
Kepala Pucuk Pimpinan KRIS

09-Sept-1946 Drs Boy Simon Tangkawarouw
Penjabat Walikota Tomohon

11-Sept-1939 Letjen TNI Purn Herman Bernard Leopold Mantiri
Kasum ABRI
Dubes RI di Singapura

16-Sept-1895 Dr Ed J E (Dick) Karamoy
Ka RS Manado 1948
Sekjen Depkes Rakyat NIT
Suami Dr. Anna Warouw

16-Sept-1953 Pdt Prof Dr William Absalom Roeroe
Ketua Sinode GMIM

22-Sept-1941 Pdt Dr Josef Manuel Saruan, MTh

23-Sept-1964 Sulut

29-Sept-1902 Dirk August Theodorus (Dicky) Gerungan
Kepala Daerah Minahasa pertama

29-Sept-1925 Kapt TNI Bertus Supit
Bupati Minahasa/Pekuperda
Kepala GEPAP (?)

Galeri Foto Minahasa: HUT Bulan Agustus 2009

04 Agustus 1923 Wilhelmina Bertha "Nona" Politton

04 Agustus 2003 Peresmian Kabupaten Minahasa Selatan (MINSEL) dengan dilantiknya penjabat Bupati Minsel Drs. R.M. Luntungan.

04 Agustus 2003 Peresmian Kota TOMOHON dengan dilantiknya penjabat Walikota Tomohon Drs. Boy S. Tangkawatouw.

09 Agt 1908 Kilala Tilaar - Komponis 'Kerajaan Allah Datanglah'.

09 Agt 1908 Kilala Tilaar tua - peringatan 2008.

09 Agt 1927 Prof Dr Johanes Lelengboto.

11 Agt 1925 Letkol TNI Purn RAF (Utu) Lalu.

15 Agt 1990 Kotamadya Bitung diresmikan dengan dilantiknya Drs. S.H. Sarundajang sebagai Walikota pertama.

15 Agt 1821 Alexander Johanes Kawilarang muda - Majoor van Tondano-Toulimambot.
Ayah/opa dari opa Kolonel Alex Kawilarang (Panglima Besar Permesta).

15 Agt 1821 Alexander Johanes Kawilarang - kubur.

15 Agt 1821 Alexander Johanes Kawilarang - kompleks kubur.

20 Agt 1920 Mayor Dolf Runturambi.
Panglima KDP II-Minahasa Permesta.

20 Agt 1955 Boy Bolang.
Promotor tinju.

21 Agt 1900 Elfianus Katoppo
Direktur Louwerierschool di Tomohon.
Menteri Pendidikan NIT 1947-1949.

22 Agt 1939 Marjolijn - Leentje Tambajong (Rima Melati).

24 Agt 194x Asiano Gamy (Gemmy) Kawatu, SE, MSi
Plt Bupati Minsel
Kadis Sulut.

24 Agt 1931 Ir Hoan Ciputra
Pengusaha real estate.

26 Agt 1936 Eric Frits Hermanus Samola, SH.
Pengusaha penerbitan koran/majalah Jawa Pos News Network, Manado Post, TEMPO.



28 Agt 1911 Sofie Kornelia Pandean.

29 Agt 1905 Jurian Tilu Parera
Walikota Manado 1953-1955

31 Agt 1983 Eliezer Karundeng
pencipta stenografi sistem Karundeng.


Jumat, 21 Agustus 2009

Galeri Foto Minahasa: Surat Permandian Tondano 1909


Surat Permandian Tondano 1909

Galeri Foto Minahasa: Pejuang No' Korompis

Pejuang No' Korompis yang terkenal.
Melawan pasukan TNI dari Jawa (Bn Worang) yang melecehkan peranan kaum republiken yang so berjuang mati-matian di daerah Minahasa.
Terkenal dengan belati di pinggangnya.

Buku: Hikajat Tuwah Tanah Minahasa - JGF Riedel 1862


Hikajat Tuwah Tanah Minahasa - JGF Riedel 1862 halaman 1.

Hikajat Tuwah Tanah Minahasa - JGF Riedel 1862 halaman 1.

Hikajat Tuwah Tanah Minahasa - JGF Riedel 1862 halaman 2-3.

Hikajat Tuwah Tanah Minahasa - JGF Riedel 1862 halaman 4-5.

Hikajat Tuwah Tanah Minahasa - JGF Riedel 1862 halaman 6-7.

===================================================

INILAH

PINTU GERBANG PENGATAHUWAN ITU


APATAH DIBUKAKAN GUNA ORANG-ORANG PADUDOKH


TANAH MINAHASA INI


OLEH


J.G.F. RIEDEL


(Maka pengatahuwan pun

pantjuran karamejan dan

kekajaan itu.)


BAHAGIJAN KALIMA
ARTINJA PADA MENJATAKAN BABARAPA PERKARA DERI PADA

HHIKAJATNJA TUWAH TANAH MINAHASA


SAMPEJ PADA KADATANGAN ORANG KULIT PUTIH NEDERLAND ITU.


1862

-----------------------------------------------------------------------------------


Ingatlah bagimu

Pudjikan termasa

Hhormat nama djadimu

Tanah M i n a h a s a.


Gedrukt te Batavia, ter lads-drukkerij, 1862.
===========================================================

Adapon maka hhikajat tuwah tanah Minahasa ini mosjkil adanja,
terbongkus dengan kabut kagalapan tjeritra purbakala penarka rupanja,
tutor-tutoran sarahasija bunjinja, apatah tijada dingartikan lagi anakh tjutju
turon-turonan itu. - Maka tersembunjilah hhikajat ini djuga pada fihakh
kakalaman, tijada dengan barang katarangan samata sinarnja, melajinkan
hhal perkusutan, pertjamporan besar sadja deri pada namanja manusija,
perkara-perkara kaadaan kalakuwan dan hhal ahhawal - apatah menim-
bulkan salaku bertambah-tambah dompakhnja demikijen.

Hhtaj maka prij penagahan barapa djenis rupanja - mudah-mudahan
dilitikh njata lagi dalam masing-masing hhikajat tuwah bangsa umat lajin-
lajin tutor-tutoran tersurat dipegangnja-itupon tadapatlah makin ditjaharij
makin berlapis banjakhnja pada hhikajat bangsa-bangsa Minahasa tuwah
khaum itu, apatah simpan menjimpan tjeritranja djuga dalam khelbuw
pengingatan, lalu menjarahkan dija itu pada anakh-anakh kulawarga tjara
bunji perkataan sawaranja, ditambah dengan dikurang menurut sangka hati
orang tjeritra itu, sahingga ternjatalah pada masa perbandingan antaranja
perkara-perkara susah sekali, tijada dikenal guna faidahnja itulah.

Maka prij berusaha ini dipertindihlah djuga pada masa kapariksaan
hhikajat tuwah bahagijan pulow Selebesij pada fihakh otara itu - diper-
tambah-tambah hhal pergawulan terlalu amat kabutnja,-apatah terbit menerbit
kaluwar deri pada kahangatan tjemburuwan kadangkejan hati, serta perban-
tahan huro hara antaranja bangsa-bangsa pada masa dihulu dan dibalakang
deri pada wakhtu pambahagijan pahasiowan posan, atawa pahawetengan
nuwuh itum nistjaja diperdustakan hhikajat sabangsa deri pada jang lajin


Galeri Foto Pribadi: Ekspedisi Watu Susupuan - Remboken 30 Mei 2008

Ekspedisi ke Watu Susupuan di Leleko - Remboken, 30 Mei 2008.
Konon, di situlah puser in tana'.
Kalo mo gempa bumi, di situ nda mo dapa rasa tu gempa.

Sekilas IPPHOS (Indonesia Press Photo Service)

Sekilas IPPHOS
Indonesia Press Photo Service

Foto-foto sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang banyak dimuat dalam buku-buku sejarah sebagian besar adalah hasil rekaman/koleksi dokumentasi Kantor Berita Foto IPPHOS; karya para pemuda pejuang atau wartawan-foto pejuang yang sejak dikumandangkannya Proklamasi Kemerdekaan Inddonesia pada 17 Agustus 1945 dengan penuh semangat telah bertekad untuk ikut menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia berjuang bersama rekan-rekan pejuang lainnya dengan "bersenjatakan kamera foto."

Kantor Pusat IPPHOS tempo dulu.

Kantor Pusat IPPHOS tempo dulu.

Kantor Berita Foto IPPHOS (Indonesia Press Photo Service) secara resmi berdiri sejak tanggal 2 Oktober 1946 oleh kakak-beradik Alexius Impurung Mendur (1907-1984) dan Frans Soemarto Mendur (1913-1971), serta kakak-beradik Justus dan Frans "Nyong" Umbas; Alex Mamusung dan Oscar Ganda. Namun sesungguhnya IPPHOS telah bergerak jauh sebelumnya yaitu pada awal tahun 1945, membantu perjuangan dengan jalan menyebarluaskan foto-foto perjuangan hasil liputannya melalui media massa lokal maupun internasional.

Adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi IPPHOS bahwa sejak Desember 1945, ditengah pasang surut kehidupannya, hingga berusia setengah abad menempati gedung di Jalan Hayam Wuruk no.30 Jakarta. Gedung yang telah menyaksikan sejarah perjuangan bangsa ketika gedung itu menjadi pusat kegiatan dan tempat penyimpanan serta penyembunyian negatif-negatif foto perjuangan di awal perjuangan kemerdekaan yang selalu menjadi incaran musuh-musuh RI.

Para wartawan pendiri biro-foto IPPHOS yang banyak berjasa terhadap Republik Indonesia. Dari kiri ke kanan: Frans F. Umbas, Alex I. Mendur, J.K. Umbas, dan A. Mamusung.

Dewan Redaksi IPPHOS.

Kantor Berita & Dokumentasi IPPHOS
Direktris: Ny. Y. Meity Mubagio-Mendur
Alamat Kantor: Jl. Kampung Melayu Besar 3F, Jakarta Timur 13320 Telp.021-8509804/8509809
Alamat Rumah: Kali Mulia, Depok Telp.021-7782355
HP.0816-909415




IPPHOS & 17 Agustus '45

Salah satu foto pertama yang dibuat oleh Frans Mendur: Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.

Foto pertama yang dibuat seorang warga negara Indonesia terjadi pada detik ketika bangsa ini berhasil melepaskan rantai-rantai yang membelenggu dirinya.
Kisah itu dimulai selepas Subuh, ketika dua orang fotografer yang bersaudara atas niat sendiri-sendiri meninggalkan rumah mereka menuju jalan Pegangsaan Timur nomor 56. Alex Mendur (1907-1984) yang bekerja sebagai kepala foto kantor berita Jepang Domei mengetahui bahwa akan ada peristiwa penting di kediaman Soekarno itu. Demikian pula halnya dengan sang adik, Frans Soemarto Mendur (1913-1971), yang mendapatkan keterangan serupa dari sumbernya di harian Jepang Asia Raya.

Rute yang masing-masing mereka ambil pagi itu sunyi-senyap tapi bukan tanpa marabahaya. Kendati beberapa hari yang lalu negeri Matahari Terbit menyatakan kalah dalam Perang Pasifik, baru sedikit orang di kepulauan Indonesia yang mengetahui hal ini. Radio tetap di segel. Bendera Hinomaru terus berkibar di mana-mana. Patroli Jepang masih berkeliaran dengan senjata lengkap dan perangai yang lebih galak lagi dibanding biasanya. Sepanjang jalan keduanya pun terpaksa melangkah dengan mengendap-endap.

Saat mereka tiba di tujuan, sekitar 5 pagi, suasana di rumah Soekarno "tidak ribut, tidak meriah. Sopan dan tenang. Menunggu kemungkinan tindakan représailles (pembalasan) dari tentara Jepang." Demikian kenang seorang pelajar putri yang hadir hari itu. Di sana telah berkumpul pula tokoh seperti Mohamad Hatta dan S.K. trimurti, selain beberapa anggota Pembela Tanah Air (PETA) dan masyarakat biasa. Jumlahnya tidak banyak, karena kejadian yang akan bergulir pada hari itu memang tidak disebarluaskan. Kakak-beradik Mendur yang baru bertemu saat itu malah merupakan satu-satunya juru foto yang hadir. Semua menanti.

Ketika matahari bergerak naik, Soekarno di dampingi Hatta akhirnya menampakkan diri untuk membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Alex dan Frans Mendur pun segera menjalankan profesinya, mengabadikan peristiwa bersejarah tersebut dengan kamera Leica mereka.

Pada saat itulah, di Jakarta, pada pukul 10 pagi, tanggal 17 Agustus 1945, sang fotojurnalis Indonesia lahir.




IPPHOS & Restorasi Sejarah

Pameran dan penerbitan buku Tahun-Tahun Mukjizat: Karya Foto IPPHOS dari Zaman Kemerdekaan 1945-1950 bertujuan menelusuri dan menguak riwayat sekelompok wartawan foto Indonesia yang sejauh ini terabaikan oleh arus besar penulisan sejarah kita. Padahal selama setengah abad lebih, semua buku tentang peristiwa kemerdekaan menggunakan karya-karya yang dibuat oleh kantor berita foto Antara, Berita Film Indonesia (BFI), dan Indonesia Press Photo Service (IPPHOS).

Di antara ketiganya, IPPHOS yang didirikan oleh Alex dan Frans Mendur bersama kakak-beradik Justus dan Frans "Nyong" Umbas merupakan yang paling penting. Kendati IPPHOS secara resmi baru berdiri pada tanggal 2 Oktober 1946, tapi pergulatan politik dan profesional mereka sudah berlangsung sejak tahun 1920-an, pada awal-awal pergerakan nasionalisme Indonesia.

Lantas, ketika tiba saatnya rakyat Indonesia mengambil keputusan untuk menjadi bangsa yang merdeka para fotografer IPPHOS bersikap untuk berada di pihak Republik, sebuah pilihan yang tidak semudah yang kita duga. Sebagai profesional yang sudah memiliki karir sebagai fotografer di media-media cetak paling utama di zaman Hindia-Belanda dan Jepang, sebenarnya jauh lebih gampang bagi mereka untuk terus bekerja pada kekuatan asing. Ditambah lagi, sebagai etnis Minahasa yang dianggap dekat dengan bangsa Belanda baik dari segi historis, budaya maupun agama, mereka harus berjuang lebih keras untuk membuktikan komitmennya dibanding suku-suku yang lain di Indonesia.
Yang menarik, keberpihakan Alex Mendur dan kawan-kawan pada perjuangan kemerdekaan tidak serta-merta menjadikan mereka alat pemerintah RI. Berbeda dari Antara dan BFI yang bermula sebagai lembaga swasta tapi kemudian menempatkan dirinya dibawah naungan Kementerian Penerangan RI, IPPHOS sejak pertama didirikan hingga detik ini terus bertahan sebagai kantor berita yang independen.

Di satu sisi, ini menyangkut risiko yang tidak kecil dari segi ekonomi dan politik. Alex dan kawan-kawan, misalnya, tidak menerima gaji tetap dari pemerintah sebagaimana halnya Antara dan BFI. IPPHOS juga harus berjuang sendirian di Jakarta ketika Antara dan BFI turut hijrah mengikuti pemerintah RI ke Yogyakarta selama kurun waktu 1946-1949. Di sisi lain, strategi IPPHOS untuk memiliki dua perwakilan --satu di kota diplomasi Jakarta, satunya lagi di kota perjuangan Yogyakarta-- memperlihatkan kematangan pribadi dan profesionalisme para pendirinya yang mendapat gemblengan di penerbitan besar macam harian Java Bode dan majalah Wereld Nieuws en Sport in Beeld di tahun 1920-1930-an.

Di Yogyakarta, IPPHOS dijalankan oleh Frans Mendur yang terkenal gesit, pemberani dan bergaya kerakyatan. Foto-fotonya, yang memperlihatkan berbagai pertempuran dan kehidupan sehari-hari di wilayah Republik yang dikepung Belanda, menjadi salah satu senjata yang paling ampuh bagi perjuangan RI di dunia internasional. Sementara itu, Alex Mendur bersama "Nyong" Umbas yang luwes berbahasa dan bertata-krama a la Belanda bukan cuma bergaul dan meliput tokoh-tokoh Republik di Jakarta seperti Bung Sjahrir, tapi juga politikus, perwira militer, wartawan dan masyarakat awam di pihak lawan.

Dengan pilihan ini, sekali lagi IPPHOS mengambil risiko yang lebih besar dibanding kantor berita lainnya, karena Alex Mendur dan kawan-kawan lantas juga harus menghadapi berbagai tudingan sebagai wartawan yang "bermuka dua" dan "komersil" dari rekan-rekannya sesama juru kamera "kiblik" (Republik). Tapi, yang dilupakan banyak pejuang Indonesia ialah bahwa strategi IPPHOS itu justru sesuai dengan yang diterapkan oleh pemerintah RI sendiri. Seperti yang disinyalir sejarawan Robert Cribb, "ciri yang paling penting dari kampanye Republik di Jawa Barat adalah tidak adanya tuntutan yang nyata bagi para pengikutnya, selain loyalitas pribadi secara diam-diam. Tiap tindakan yang mengganggu kekuasaan Belanda merupakan suatu sumbangan yang diterima dengan senang hati. Bersikap tidak aktif berarti menyebabkan Belanda terus menduga-duga; bekerja untuk Belanda berarti mengifiltrasi musuh."

Harus diakui bahwa di tengah-tengah embargo politik dan ekonomi yang dilakukan Belanda terhadap kita saat itu, Mendur dan Umbas bersaudara justru bukan cuma memperlihatkan kedewasaan politik di atas wartawan foto Republik lainnya, tapi juga telah memilih taktik jitu yang terbukti menjamin kelangsungan hidupnya. Dengan cara ini, mereka bisa mengirim materi foto ke kantong-kantong perjuangan, sekaligus menyelamatkan foto-fotonya dari sensor Belanda. IPPHOS menjadi satu-satunya kantor berita Indonesia yang berhasil menyelamatkan nyaris seluruh koleksinya, walaupun kantor mereka, seperti halnya Antara dan BFI, beberapa kali diserbu tentara Belanda. Alhasil, tidak ada satupun lembaga di Indonesia yang bisa mendekati keunikan, kekayaan dan orisinalitas foto-foto Alex Mendur dan kawan-kawan; koleksi IPPHOS merupakan satu-satunya karya visual yang paling penting yang kita miliki di Indonesia sekarang. Sementara sejak tahun 1950 foto-foto Antara dan BFI sudah tinggal debu, IPPHOS masih beroperasi dan menyimpan seperempat juta negatif asli.

Setengah abad kemudian, keberadaan koleksi itu menjadi semakin penting. Pertama karena sepanjang lima puluh tahun terakhir ini sangat sedikit sekali foto-foto zaman kemerdekaan yang bisa dilihat umum. Faktanya, karya para juru foto Republik yang pernah diterbitkan pemerintah atau swasta, baik untuk bacaan umum maupun kalangan akademis, jumlahnya tak sampai 200-an gambar, yang terus diulang-ulang pemakaiannya dari satu publikasi ke publikasi lainnya. Bila dihitung dari sekitar 22.000 negatif IPPHOS yang berasal dari kurun waktu 1945-1949 saja, jumlah itu berarti tak sampai 1%-nya!
Yang lebih mengejutkan lagi 99% foto karya Alex Mendur dan kawan-kawan yang belum pernah dipublikasikan itu justru memperlihatkan sebuah pandangan yang sangat bertentangan dengan gambaran yang disuguhkan oleh buku-buku sejarah dan kronik resmi tersebut.
Sebagian besar adalah mengenai manusia biasa, petani, pedagang, buruh, wanita, anak-anak, dan tentara rendahan, bahkan ada pula pelacur, calo dan pemadat. Banyak yang menggambarkan kaum Republik, tapi tidak sedikit pula yang memperlihatkan orang-orang Belanda. Dalam kesemuanya, bahkan dalam sebagian besar potret para pemimpin, yang ditekankan adalah sisi mereka yang manusiawi. Dari sinilah, misalnya, lahir foto Bung Karno yang asyik menonton para supir kepresidenan mereparasi mobil, juga sosok Amir Syarifuddin yang larut dalam tragedi Romeo and Juliet-nya Shakespeare di atas gerbong kereta yang membawanya ke hadapan regu tembak. Dari sini kita diajak merenung betapa warga Indo-Belanda bekas tawanan Jepang yang akan dipulangkan sama menderita dan berharapnya seperti keluarga campuran yang baru tiba di Tanjung Priok.
Foto-foto itu membuktikan betapa heroisme bukan hanya milik orang-orang besar dengan tindakan-tindakan besar mereka, atau cuma terjadi pada orang Indonesia saja, tapi juga berlaku bagi semua manusia yang di tengah-tengah badai sejarah yang menyeret mereka masih harus pula bergulat dengan kemanusiaannya yang boleh jadi sepele dan konyol --melawan lapar dan dahaga, mengatasi rasa takut dan bosan, berharap.
Dan itu membawa kita kepada hakekat yang paling penting bagi penyelenggaraan Tahun-Tahun Mukjizat: Karya Foto IPPHOS dari Zaman Kemerdekaan 1945-1950.
Dari sisi fotografi, apa yang dilakukan Alex Mendur dan rekan-rekannya tidak kurang dari perombakan terhadap konsep-konsep estetika yang pada saat itu telah seabad lebih mengakar di kepulauan Indonesia. Dengan kamera kecilnya yang lincah dan ringkas, dengan pengendapan pengalamannya, para fotografer IPPHOS bukan cuma menghilangkan suasana kaku dan berjarak yang begitu terasa pada fotografi Hindia-Belanda, tapi juga segala bentuk diskriminasi sosial. Dalam bidikan mereka, untuk pertama kalinya manusia Indonesia menjadi utuh, tersenyum, bahkan berdiri tegap berdampingan dengan manusia-manusia dari belahan bumi lainnya. Ia tidak lagi sekedar bayang-bayang buram yang berjongkok di kaki tuan Belanda-nya dalam potret-potret "tempo doeloe".
Dari sisi politik, karya-karya IPPHOS yang 99% itu menggugat dan menghancurkan seluruh konsep rezim Orde lama maupun Orde Baru yang memperlakukan sejarah ibarat sebuah galeri yang sekadar berisi potret-potret para penguasa dan pemenang. Sebaliknya, rekaman foto Alex Mendur dan kawan-kawan menjadi bukti visual yang paling gamblang bahwa kemerdekaan Indonesia pada awalnya dan pada intinya adalah sebuah semangat humanisme yang universal dan mendalam, yang berlaku bagi setiap orang apapun warna kulit atau jabatannya, dan yang menjangkau bahkan sampai ke kelompok yang karena perjalanan sejarah terpaksa menjadi musuh-musuhnya.
Melalui pameran dan buku ini --yang menampilkan beberapa contoh foto-foto yang sudah terlalu lama dibiarkan terpendam itu-- semoga kita akan mulai merestorasi karya Alex Mendur dan kawan-kawan dalam arti yang sesungguhnya, yakni sebagai sebuah bentuk kesadaran yang membebaskan kita dari segala belenggu dan rantai-rantai penindasan serta pembodohan.

Yudhi Soerjoatmodjo,
Direktur "i see" &
Kurator Tahun-Tahun Mukjizat: Karya Foto IPPHOS dari Zaman Kemerdekaan 1945-1950



IPPHOS & Rekaman Revolusi

Hari-hari setelah Proklamasi Kemerdekaan, Jepang masih tetap berkuasa. Bendera Hinomaru terus berkibar. Serdadu Nippon masih berjaga-jaga. Rakyat hidup dalam ketakutan dan serba kekurangan, sama seperti yang mereka lalui selama 3 tahun masa pendudukan.

"Dapat dikatakan suasana dalam masyarakat melempem adanya," demikian kenang wartawan Rosihan Anwar tentang periode ini. "Pemuda mendapat kesan Sukarno-Hatta ragu-ragu...Akibatnya tidak ada gerak." Pasalnya, pemerintah RI bukan hanya tak punya uang, tapi juga tidak memiki aparat. Sebagian pangreh-praja pribumi justru menganggap kemerdekaan Indonesia akan merongrong wibawa yang pernah mereka nikmati di bawah penjajahan Belanda dan Jepang.

Berbeda dari penggambaran populer, tidak ada teriakkan "Merdeka!". Tidak ada pemuda dengan rambut panjang dan ikat kepala merah-putih yang mengacung-acungkan bambu runcing ke arah musuh.

Kenyataannya, adalah para juru foto yang pertama mengambil inisiatif pada hari-hari "melempem" itu. Tanpa perintah, tanpa dana, tanpa lembaga yang jelas dan, yang lebih penting lagi, tanpa menunggu kehadiran media pendukung seperti koran dan majalah.

Jepang masih menguasai seluruh sarana informasi umum bahkan hingga bulan Oktober 1945. Berita Indonesia yang dianggap sebagai koran Republik pertama baru terbit 13 September 1945. Itu pun dalam bentuk stensilan. Harian Merdeka menyusul pada 1 Oktober, cuma 4 halaman. Kamera tetap menjadi barang terlarang, kecuali bagi segelintir wartawan pribumi yang bekerja untuk pers Nippon. Belakangan, peralatan itu pun sengaja disembunyikan Jepang sebagai cara mengekang bawahannya sendiri. Akibatnya, fotografer M. Sayuti dan Abdoelkadir Said harus bergantian menggunakan satu-satunya tustel Contax yang berhasil mereka ambil dari Domei. Sineas dan fotografer R.M. Soetarto terpaksa menodongkan pistol ke pelipis atasannya di Nippon Eiga Sha untuk mendapatkan beberapa kamera dan film.

Sementara itu, Alex dan Frans Mendur berada dalam kejaran sensor. Rekaman foto Alex dari jalan Pegangsaan Timur 56 disita oleh atasannya yang orang Jepang. Besar kemungkinan karya itu musnah bersama dokumen lain yang diperintahkan untuk dibakar oleh kepala Domei. Frans, yang mengetahui kejadian itu menyembunyikan klisenya di tempat yang paling aman --di dalam tanah, di halaman belakang kantor Asia Raya. Foto-foto itulah --yang baru bisa diterbitkan untuk pertama kalinya pada Februari 1946 oleh harian Merdeka -- satu-satunya bukti yang kita miliki sekarang dari peristiwa bersejarah tersebut.

Selain memotret Alex juga sibuk mendirikan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi bersama tokoh-tokoh lainnya. Frans sempat membantu Barisan Pelopor dan Angkatan Pemuda Indonesia melucuti serdadu Jepang menjelang rapat besar di lapangan IKADA. Lantas, pada tanggal 1 Oktober 1945, ia bersama B.M. Diah dan rekan-rekan bekas Asia Raya merebut percetakan De Unie dan mendirikan harian Merdeka. Tiga hari kemudian kakak-beradik tersebut meliput pertemuan antara Kabinet RI pertama dengan wartawan asing. Pada tanggal 17 November terjadi pertemuan pertama Indonesia-Belanda di Jakarta. "Dari pertemuan itulah keluar sebuah foto yang dibuat oleh Ipphos memperlihatkan Sjahrir yang kecil berdiri diapit oleh dua orang bule yang jangkung yaitu Christison dan Van Mook. Sejak itu koran-koran mulai memberi julukan 'Bung Kecil' kepada Sjahrir," kenang wartawan Rosihan Anwar.

Alhasil, ketika para pemuda baru mulai bergerak untuk merebut jawatan tram dan kereta api serta mencorat-coret tulisan "Milik Repoeblik Indonesia" di dinding-dinding bangunan, Alex Mendur dan kawan-kawan sudah melalui 3 bulan pertama yang paling menegangkan tapi produktif dalam karir mereka. Hingga ibu kota Republik pindah ke Yogyakarta, Alex dan Frans Mendur telah membuat lebih dari 2500 gambar --beberapa di antaranya adalah momen yang selama 50 tahun terakhir ini dianggap sebagai puncak-puncak sejarah revolusi oleh buku-buku sejarah.



IPPHOS & Ikon Revolusi

Di mata seorang pemimpin seperti Bung Karno yang cerdas, karismatik, dan memahami pentingnya citra, apa yang dibuat oleh IPPHOS, Antara dan BFI menjadi teramat penting. Seperti yang diuraikan sejarawan Robert Cribb dalam buku Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949, negara RI yang baru didirikan sangat lemah karena tidak memiliki sumber keuangan, angkatan bersenjata, maupun sistem komunikasi yang memadai. Akibatnya, "republik lebih bergantung kepada ideologi dan retorika sebagai satu-satunya alat untuk memelihara hukum dan ketertiban. Dan itu bukanlah alat yang dapat diabaikan."
Sejak semula pemerintah RI memanfaatkan kejelian dan loyalitas para juru foto Indonesia. Bung Karno, demikian kesaksian para wartawan zaman itu, takkan pergi ke mana-mana tanpa didampingi juru foto; sebaliknya, para fotografer sendiri selalu diperlakukan secara istimewa. Seperti kata RM Soeharto, "wartawan foto itu dulu seperti raja. Sementara wartawan tulis cuma berdiri di pojok, fotografer bisa memotret hingga satu meter dari Bung Karno." Maka, para menteri dengan senang hati menyelundupkan film dan barang-barang lain milik para juru foto di atas kereta api khusus. Bung Karno biasa mengajak Alex dan Frans Mendur sarapan pagi. Demikian pula, juru kamera BFI, RM Soeharto, masih ingat ketika suatu hari di tengah jalan sebuah sedan besar berhenti didekatnya. "Bung Karno sendiri membukakan pintu dan menawarkan saya tumpangan," tuturnya.
Sepanjang revolusi, kedekatan itu menciptakan suatu kameraderi yang nyaris tak terulang lagi, khususnya di zaman Orde Baru. Di satu pihak, persahabatan dan rasa saling menghormati ini memungkinkan para fotografer seperti IPPHOS untuk membuat potret-potret eksklusif dan dramatis.
Di pihak lain, hubungan itu juga bisa membuat para juru foto kehilangan obyektifitasnya. Antara dan BFI yang bermula sebagai lembaga independen, belakangan memilih untuk menjadi pegawai negeri dibawah Kementerian Penerangan RI. IPPHOS satu-satunya yang mempertahankan kemandiriannya. Tapi, hanyut oleh romantisme perjuangan saat itu, adakalanya Alex Mendur dan kawan-kawan melepaskan kontrol terhadap gambar-gambar yang mereka buat.
Yang menjadi masalah, dengan perjalanan waktu potret-potret itu tumbuh menjadi ikon-ikon yang seolah-olah terlepas dari fakta yang sebenarnya ketika pertama dibuat. Foto-foto itu tidak lagi mendeskripsikan suatu peristiwa nyata yang terjadi pada subyeknya, tapi telah menjadi sebuah simbol yang maknanya tergantung pada siapa yang menggunakan atau membacanya. Di tangan seorang penguasa yang cerdik, atau sejarawan yang terampil, foto-foto itu bisa direduksi atau dipelintir lebih jauh lagi. Dengan cara hanya menerbitkan foto-foto yang memperlihatkan sosok Letnan Kolonel Soeharto, misalnya, para penulis sejarah dengan mudah menggiring pembacanya kepada kesimpulan yang diinginkan: bahwa aktor utama Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah Presiden kedua RI tersebut, bukan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Demikian pula, ada banyak foto Bung Tomo, tapi berkat buku-buku sekolah dalam benak kita selalu hanya ada satu Bung Tomo: yakni yang menggambarkan dirinya sedang berpidato di atas mimbar dengan payung garis-garis dan corong bundar, dengan lengan yang teracung dan mata membara, serta pistol di pinggang kanannya. Dalam setiap kronik revolusi, foto ini akan muncul pada saat para penyusunnya sedang mengisahkan pertempuran Surabaya '45 --betapapun semua kesaksian dan data yang kita miliki sekarang menunjukkan bahwa potret itu dibuat pada tempat, waktu dan kejadian yang lain dari peristiwa termahsyur itu.
Ambil pula sebagai contoh foto yang dibuat oleh Frans Mendur di serambi rumah kepresidenan RI di Yogyakarta, beberapa waktu setelah Aksi Polisionel Belanda yang kedua. Selama setengah abad terakhir, foto Bung Karno merangkul Jenderal Sudirman itu dijadikan bukti betapa antara sipil dan militer RI tak pernah terjadi keretakan akibat perbedaan sikap mereka terhadap insiden tersebut. Para penulis pun seperti berlomba-lomba mencari kalimat yang bisa menyaingi drama dalam gambar IPPHOS itu. Tak ada yang menyadari bahwa pada kenyataannya foto ini adalah hasil dari sebuah adegan ulang --atas permintaan Presiden Soekarno-- dan tak ada yang memperhatikan betapa dalam pengulangan itu sang Jenderal masih saja terlihat tegang dan kaku terhadap pimpinan tertingginya. Tapi, barangkali semua itu bukan persoalan. Bukankah sejarawan terkemuka Taufik Abdullah sendiri pernah menulis: "Revolusi tidak sekedar situasi real, tetapi juga suasana pikiran dan hati."



IPPHOS & Fotojurnalisme Moderen

Beberapa hari setelah proklamasi kemerdekaan para juru foto Indonesia merebut kembali apa yang menjadi hak setiap manusia: mencitrakan dan mengabadikan diri mereka sendiri sebagai insan merdeka. Sebuah dimensi baru segera muncul dalam karya-karya Alex Mendur dan kawan-kawan, yakni yang memperlihatkan kesetaraan dan kebersamaan di antara manusia. Untuk pertama kalinya, manusia Indonesia tidak lagi digambarkan sebagaimana dalam potret-potret "tempo doeloe" --sekadar bayang-bayang buram yang selalu berjongkok di kaki tuan Belanda-nya-- tapi secara utuh. Nyaris setiap bingkai yang dibuat Mendur bersaudara dan "Nyong" Umbas dipenuhi oleh manusia biasa yang saling berdesakkan, berebut perhatian, bergelora.
Ada beberapa faktor yang mendukung perkembangan ini:
Salah satu yang paling penting adalah latar belakang profesional para fotografer itu sendiri. Di abad ke-19, para juru foto umumnya adalah fotografer komersial yang bekerja dari studionya. Di awal abad ke-20, banyak bermunculan fotografer amatir. Sebaliknya, sejak awal karirnya, para fotografer IPPHOS, Antara dan BFI adalah wartawan di lapangan. Perbedaan ini menjadi sangat mendasar. Alex Mendur, misalnya, bukan cuma bekerja pada harian Java Bode dan majalah Wereld Nieuws di tahun 1930-an, tapi juga menjadi kepala foto kantor berita Domei di zaman Jepang. Walaupun para fotografer itu memulai karirnya di media Belanda dan Jepang, pengalaman yang mereka dapatkan sebagai wartawan telah mendorong kemampuan mereka untuk melihat berbagai persoalan secara kritis dan lebih luas. Dalam pada itu, para juru foto IPPHOS beruntung bisa mengawali formasinya pada tahun-tahun yang dianggap sebagai zaman keemasan majalah berita bergambar. Kendati sebagian besar terbitan berkala Hindia-Belanda masih terkesan kolot, beberapa di antaranya --seperti D'Orient atau Wereld Nieuws-- secara terbatas mulai memperlihatkan inovasi seperti esei foto yang dipengaruhi oleh majalah-majalah Jerman dan Rusia. Dengan kehadiran Jepang, kecenderungan ini terus mendapatkan dorongan. Terlepas dari tujuannya sebagai propaganda, salah satu hal baik yang dibawa oleh pendudukan fasis adalah penggunaan foto-foto yang jauh lebih dinamis lagi, yang didapatkan melalui sudut-sudut pengambilan gambar yang ekstrim --dari ketinggian dan kerendahan; dari jauh dan dekat. Tak heran bila salah satu yang harus dibawa oleh seorang fotografer Domei adalah sebuah tangga pendek. Tapi, selain perkakas sederhana itu para juru foto Indonesia juga menggunakan berbagai teknologi mutakhir yang memungkinkan mereka untuk memotret dan memproses filmnya dalam beragam situasi dan kondisi. Alex dan Frans Mendur, misalnya, memakai kamera Leica yang sangat ringkas dan menggunakan film gulungan. Selain mudah diselundupkan dari medan perang, jenis film ini bisa merekam gambar lebih banyak, serta bisa dipakai untuk mengambil gambar dalam kondisi cahaya yang tak terlalu baik. Sebagian besar foto-foto yang paling penting dari zaman revolusi --proklamasi kemerdekaan, contohnya-- dibuat dengan kamera merek Jerman ini. Sementara itu, untuk situasi khusus para fotografer IPPHOS juga menggunakan tustel dalam format yang lebih besar, di antaranya Roleiflex dengan ukuran film 6 x 6 cm yang banyak dipakai saingannya dari pers Belanda dan Amerika Serikat. Pengalaman dan pengetahuan yang kaya ini terangkum dalam setiap foto yang dibuat IPPHOS. Dari berbagai liputannya, jelas terlihat betapa Alex Mendur dan kawan-kawan selalu menjalankan suatu proses kerja kewartawanan yang sistematik, profesional, dan cerdas. Tak jarang mereka bekerja sebagai tim yang terdiri dari dua, tiga orang fotografer sekaligus (yang artinya seluruh fotografer yang ada di setiap biro). Masing-masing menempati lokasi dan sudut pandang berbeda. Dengan cara ini, setiap fotografer akan membuat foto yang unik sekaligus melengkapi karya rekannya. Ini yang mereka lakukan, misalnya, saat membuat potret Bung Hatta yang tiba di stasiun Manggarai, 8 Juni 1947. Ini pula yang mereka lakukan ketika meliput kepulangan Bung Karno ke Jakarta, tanggal 29 Desember 1949. Dari foto-foto yang dibuat dan beberapa kesaksian, kita bisa menyimpulkan bahwa paling tidak ada tiga orang juru foto IPPHOS yang hadir pada hari itu: Alex Mendur, "Nyong" Umbas dan Melvin Jacob. Satu orang memotret sambil berlari-lari di antara kerumunan rakyat yang menyambut rombongan Presiden RI; seorang lagi, boleh jadi Alex Mendur, menunggu di tangga istana tempat Bung Karno akan memberikan pidatonya; sementara "Nyong" Umbas yang ganteng dan parlente kemungkinan besar berdiri di susur tangga, dengan sepatu putihnya yang baru disemir dan sebatang rokok di tangan, siap untuk mengabadikan momen bersejarah itu dengan sebuah kamera Bush-Pressman 6 x 9 cm.



IPPHOS & Elegi Kehidupan

Menurut survei Galeri Foto Jurnalistik Antara, tahun 1997, koleksi IPPHOS terhitung 250.000 negatif asli. Yang berasal dari kurun waktu 1945-1949 saja berjumlah 22.700 gambar. Sebagian besar, sekitar 90%, masih dalam kondisi yang sangat baik. Tapi, seandainya kita membolak-balik buku-buku sejarah yang terbit selama 50 tahun terakhir ini, maka kita akan menemukan bahwa karya para juru foto Indonesia yang pernah dimuat di berbagai publikasi tersebut tak pernah melebihi 200-an gambar. Itupun nyaris sama pilihannya, baik dari segi substansi maupun bentuk. Artinya, apa yang pernah diperlihatkan kepada kita di sekolah dan museum-museum sejauh ini baru sebagian kecil --sangat, sangat kecil-- dari apa yang sebenarnya terjadi selama revolusi.

Maka, jangan heran bila 99% foto-foto yang dibiarkan terpendam itu memberikan gambaran yang sangat bertolak-belakang dari 1% yang dimunculkan dalam berbagai kronik sejarah. Terutama adalah gambaran kehidupan yang oleh IPPHOS diperlihatkan sangat inklusif, merangkul hampir segala lapisan masyarakat dan segala kegiatan manusia. Semua orang yang terlibat dan menderita di dalam perang kemerdekaan --Indonesia, Belanda dan Tionghoa; pemimpin, prajurit dan masyarakat biasa-- tercakup di sini.



Darimana IPPHOS mendapatkan gambar-gambar itu?

Foto-foto itu lahir dari kenyataan hidup: Perang bukan cuma sebuah dunia yang dihuni pahlawan, tapi di sana juga ada para pengkhianat, pengecut, dan pecundang yang sekadar ikut-ikutan. Perang bukan hanya pemimpin dan perwira, tapi juga korban-korban mereka. Untuk setiap lelaki yang memanggul bedil, maka akan ada lelaki lain yang harus mencangkul di sawah. Akan ada yang lain yang mesti mendorong truk angkutannya yang mogok di tengah hutan. Akan ada seorang janda atau anak yatim yang terpaksa menjual pakaiannya, menggembel, atau bahkan menggadaikan tubuhnya untuk bertahan hidup. Lagipula pelacur juga bisa menjadi pahlawan; di Tangsi Penggorengan, adalah para wanita tuna-susila yang bertugas mencuri senjata prajurit Gurkha.

Foto-foto itu lahir dari kemauan hidup, karena di hadapan maut jantung manusia biasanya akan berdegup lebih cepat. Maka, di Jakarta atau di Yogyakarta, lampu-lampu jalanan terus menyala di malam hari. Perusahaan film terus membuat lakon baru. Bioskop terus mempertunjukkannya. Ring tinju atau gulat dipenuhi penonton dan pejudi. Para remaja terus dansa-dansi. Opas masih harus bangun pagi dan berangkat ke kantor setiap pagi, pelukis tetap melukis dan bertikai satu dengan yang lain, sementara si pemilik sampan di Ciliwung tak henti mengayuh perahunya hilir-mudik ketepian mengangkut penumpang atau tangkapan.

Maka, foto-foto itu lahir dari kecintaan terhadap segala yang hidup. Hidup buruh-buruh pabrik gula yang sepanjang hari berpeluh keringat, atau bocah-bocah yang kegirangan menyaksikan atraksi pilot-pilot RI. Hidup seorang prajurit Tiongkok yang berbagi rokok dengan seorang laskar di hari-hari terakhir ketika langit Surabaya diselimuti asap-asap hitam. Juga hidup tuan tanah Belanda yang sama ketakutannya seperti petani yang lari tunggang-langgang ketika pesawat musuh menjatuhkan bom di kebun.

Dan yang paling penting, foto-foto itu lahir dari pengalaman hidup para pembuatnya; sebagai inlander, sebagai pejuang, sebagai minoritas Minahasa beragama Kristen, sebagai wartawan kere --pendek kata, sebagai manusia-manusia yang di setiap zaman --kolonial, penjajahan Jepang, maupun kemerdekaan-- selalu harus membuktikan keberadaannya.
Alhasil, kesaksian Mendur dan Umbas bersaudara menjadi terlalu luas, terlalu rumit, terlalu hidup untuk direproduksi ke halaman-halaman kusam kitab sejarah. Foto-foto IPPHOS berbicara tentang toleransi dan penghormatan terhadap seluruh manusia, tentang hidup, sementara para sejarawan cuma mau ngomong tentang kejayaan masa silam dan raja-raja yang sudah lama mati.



Kisah tentang foto Bung Karno merangkul jenderal Sudirman yang kembali dari gerilya, 8 Juli 1949.

Kesaksian berikut ini bisa memberi gambaran betapa besarnya kekuatan fotografi, dan seberapa dalam pemahaman para pemimpin RI terhadap kekuatan itu:

Pada Aksi Polisionel Belanda yang ke-II, Desember 1948, hubungan antara militer dan sipil RI mengalami keretakkan. Panglima Besar Jenderal Sudirman yang terus bergerilya walau dalam keadaan sakit keras kecewa terhadap sikap Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta. Soekarno, kendati pernah berjanji akan ikut bertempur, membiarkan dirinya ditahan ketika tentara Belanda menyerbu Yogyakarta. Pada tanggal 7 Juli 1949, setelah Belanda dipaksa mundur dan Soekarno-Hatta kembali ke Yogyakarta, Letnan Kolonel Soeharto yang didampingi fotografer Frans Mendur dari IPPHOS dan wartawan tulis Rosihan Anwar ditugaskan untuk menjemput Jenderal Sudirman dari markas gerilyanya di dekat Wonosari. "Untuk menghindari kesan telah terjadi perpecahan," Rosihan Anwar mencatat.

Keesokan harinya, Frans Mendur ikut rombongan Sudirman yang bertolak menuju Yogyakarta; dari perjalanan yang menembus hutan dan bukit inilah ia membuat seri foto terkenal yang menggambarkan Sudirman ditandu prajuritnya. Saat itu, sang Jenderal hidup dengan paru-paru yang tinggal sebelah. Di Yogyakarta, Soekarno dan Hatta menanti di beranda depan kediaman Presiden yang luas. Beberapa wartawan sudah berkumpul di sana. Di antaranya adalah fotografer Antara Abdoelwahab Saleh dan M. Sayuti. Kebetulan keduanya pada hari itu tidak memotret karena kehabisan persediaan film.

"Ketika kami tiba, suasana sangat tegang," tutur Tjokropranolo, pengawal pribadi Panglima Besar (belakangan menjabat Gubernur DKI). Soedirman hanya berdiri kaku dengan sebelah tangannya menggenggam tongkat, tapi Soekarno serta-merta merangkul sosoknya yang ringkih. Seketika itu pula matanya menangkap sosok Frans Mendur yang memegang kamera.
- "Momennya dapat tidak?" tanya Bung Karno kepada Frans Mendur.
Kepala IPPHOS di Yogya itu menggeleng.
- "Terlalu cepat," jawabnya.
Pada saat itu kepala BFI R.M. Soetarto yang datang terlambat, tiba di serambi. Ia, sebagaimana M. Sayuti, mendengar instruksi Presiden RI kepada Frans Mendur.
- "Kalau begitu diulang adegan zoentjesnya," kata Bung Karno.
Frans Mendur mematuhi perintah presiden. Demikian pula sang Jenderal.

Puluhan tahun kemudian, foto inilah yang muncul di buku-buku sejarah. Dibawahnya besar kemungkinan kita akan mendapatkan kalimat yang bombastis, yang salah satu contohnya bisa kita baca dalam buku berjudul Merdeka atau Mati karya Yusni Y. Bahar (1983):

"Panglima Tertinggi Bung Karno dan Panglima Besar Sudirman laksana kakak-adik yang telah sekian lama tak bersua...Rindu yang tertanam dan tertahan, menjelmakan sikap yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata."


(c) 2001: Yudhi Soerjoatmodjo, Kurator




Belajar dari Dokumentasi Sejarah

22 Feb 2001

IPPHOS-sby45kapalterbakar Banyak harapan dan impian muncul ketika Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Namun, harapan tinggallah harapan, kemakmuran dan kesejahteraan tetaplah sebuah tujuan mulia yang masih sulit digapai bangsa ini. Pameran fotografi tentang kemerdekaan RI, yang diadakan di Pusat Kebudayan Polandia dari tanggal 22-28 Februari ini bisa menjadi refleksi. Pameran ini memajang foto-foto karya Mendur dan Alex dan Frans Umbas.
Mewujudkan kemerdekaan hakiki ternyata bukan persoalan mudah. Kalau kemudian mulai muncul rasa frustasi rakyat, sesunguhnya itu bisa dipahami. Keterkungkungan dari penindasan membuat mereka mulai bertanya-tanya, apakah hakekat sebenarnya dari kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan?
Mencermati foto demi foto yang ada, kita seakan-akan di giring ke masa lalu ketika rakyat rela mengorbankan semuanya demi kebebasan dan kemerdekaan bangsanya. Foto tentang pertempuran Surabaya misalnya. Moment ini menggambarkan betul bentuk heroisme dan kenekatan rakyat dalam memperjuangkan hak-hak mereka. Keberanian mereka dengan segala resiko yang ada adalah wujud bukan saja keteladanan, tetapi juga simbol sikap kebangsaan.
Kemampuan para fotografer yang tergabung dalam IPPHOS, berdiri 2 oktober 1946, meski masih dalam bentuk hitam putih, tergolong modern. Melihat peralatan serta teknologi yang mereka gunakan, karya-karya mereka terbilang hebat. Sebagai seorang jurnalis, karya-karya Mendur dan Umbas bersaudara ini bisa menggambarkan betul rangkaian peristiwa saat itu. Termasuk foto-foto tentang pemberontakan PKI Madiun 1948. Tentang pemberontakan ini terdapat sebuah foto yang menunjuk terjadinya penghakiman massa terhadap anggota PKI. Kemarahan dan kebencian masyarakat begitu tampak dalam peristiwa itu. Seolah menggambarkan terjadinya konfrontasi ideologis yang begitu kental. Padahal kebanyakan dari mereka adalah masyarakat miskin dan buta politik. Apalagi pemahaman mereka tentang ideologi Komunis-Marxis yang dikembangkan Muso.
Sebuah gambar memang merujuk pada peradaban dan citra yang hadir dan berkembang saat itu. Demikian halnya dengan karya-karya ketiga fotografer ini. Hasil bidikan mereka dengan menggunakan kamera Leica dan Roleiflex menjadi bahan menarik untuk dikaji. Termasuk makna yang terdapat dalam setiap moment sejarah itu. Rakyat sungguh menanti kemerdekaan mereka! (Kun Wahyu)
Sumber: http://www.matamata.com/general/readart.cfm?ID=686

Perusahaan IPPHOS serupa
Nama Majalah:FOTO IPPHOS
Nama Perusahaan / Penerbit: Yayasan IPPHOSS
Nomor & Tanggal SIUPP: 1611/SK/MENPEN/SIUPP/99 - 19 Agustus 1999
Alamat & Nomor Telepon: Jl. Urip Sumoharjo No. 9 Telp.(031) 5343174, Surabaya
Pemimpin Umum: Haddy J. Y. Warokka
Pemimpin Redaksi: Haddy J. Y. Warokka
Pemimpin Perusahaan: Wandi R. Kusuma
Isi Penerbitan: Berita foto segala bidang
Bahasa: Indonesia




Daftar sumber:


Ucapan terima kasih:
  • Wellem Turambi, bekas wartawan foto IPPHOS (sekarang redaktur Tabloid MIMBAR)
    Telp.(0431) 868552 (Winangun Ling.V/Kompl.Bukit Moria-Mdo),
    Telp.(0431) 851319 (Tabloid MIMBAR)
  • Butje Rompas, bekas Kepala Cabang IPPHOS Makassar (sekarang wartawan Harian pedoman Rakyat - Makassar)
    Telp.(0411) 311530 (Jl.Dr.Sutomo 1 Makassar)
    Mobile Phone (HP) 0815-2520805,
    Telp.(0411) 873344, 884675 (Harian Pedoman Rakyat)

Revisi oleh: Permesta Information Online 2001 dan 2003
(Bodewyn Grey Talumewo)

Galeri Foto Minahasa: Diskusi Memerdekakan Tou Minahasa 20 Agustus 2009

Diskusi Terbatas Memerdekakan Tou Minahasa 20 Agustus 2009.




Gerakan Minahasa Muda (GMM) bekerjasama dengan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang Tondano pada hari Kamis, 20 Agustus 2009 bertempat di Pusat Kuliner Minahasa, Boulevard Tondano telah melaksanakan diskusi: "MEMERDEKAKAN TOU MINAHASA"

Tampil membawakan materi pengantar / discussion starter adalah Ketua KADIN dan GAPENSI Minahasa Yanny Marentek dan Ir,P.U Rantung mewakili Dinas Diknas Minahasa.

Berikut adalah hasil identifikasi permasalahan dan rencana tindak lanjut.
Peserta yang hadir, juga sepakat membentuk satu Kelompok Ide dan Penggerak yang akan melaksanakan rekomendasi diskusi ini. Nama dan langkah selanjutnya akan dibicarakan di Watu Pinabetengan, Jumat 29 Agustus 2009.

INVENTARISASI MASALAH:
A. EKONOMI
  1. Kemiskinan dan Pengangguran
  2. Etos Kerja menurun
  3. Orang Minahasa Kalah bersaing dengan pendatang di negeri sendiri
  4. Belum banyak orang muda tertarik berwirausaha karena masih PNS oriented dan berpikir cari gampang/instan.

B. PENDIDIKAN
  1. output pendidikan belum matching dengan kebutuhan pasar kerja
  2. Muatan Lokal masih kurang menekankan Local Wisdom Tou Minahasa

C. BUDAYA
  1. Pengikisan budaya eksistensial / penanda eksistensial Tou Minahasa

D. POLITIK
  1. Masih lemahnya Political will pemerintah dan legislatif untuk melakukan gerakan perubahan Mind set.

RENCANA TINDAK LANJUT:
Spesifik atau komprehensif
A. Gerakan Intelektual
  • - Terobosan ut merubah cara berpikir / mind set orang muda Minahasa, change of mind.
  • - Menyiapkan buku dimana pemikiran kontemporer orang muda Minahasa didokumentasikan. Diawali dengan topik “Memerdekakan Tou Minahasa”
  • - Kelompok2 diskusi / Diskusi rutin / budaya intelektual yang bisa ke arah mempengaruhi di tingkat kebijakan publik.
  • - Diskusi yang terorganisir melibatkan seluruh elemen pemuda Minahasa
B. Gerakan ekonomi
  • - Kelompok ekonomi kecil dari orang muda Minahasa
  • - Usaha supaya peluang kerja yang ada bisa diperoleh orang muda Minahasa
  • - Kelompok percontohan pemberdayaan ekonomi pemuda
C. Gerakan Politik
  • - Pendidikan politik berbasis kultur Minahasa
  • - Perlu masukan ke lembaga terkait menyangkut muatan lokal (sejarah, kesadaran budaya Minahasa)
  • - Momen utk membangkitkan semangat keminahasaan pemuda Minahasa semacam Kongres Orang Muda Minahasa.
D. Gerakan Cultural
  • - Program2 utk Membangunkan kesadaran eksistensial Tou Minahasa

E. Pendidikan
  • - ke depan perlu adanya Minahasa Institute
  • - Training berbasis komunitas grass root
  • - Akses dana pemerintah utk menyekolahkan pemuda2 yg potensial
  • - Bimbingan belajar
Untuk menjalankan rencana ini, peserta sepakat membentuk kelompok ide dan aksi yang akan membentuk kelompok-kelompok dampingan.


I jajat u santi

Galeri Foto Pribadi: Ekspedisi waruga Opo Siouw Kurur (Siou Kundu/Batu Panjang) di Sonder 8 Agustus 2009

Ekspedisi waruga Opo Siouw Kurur (Siou Kundu/Batu Panjang) di Sonder
8 Agustus 2009.


Mata air di jalan menuju waruga/batu panjang.

Ekspedisi waruga Opo Siouw Kurur (Siou Kundu/Batu Panjang) di Sonder 8 Agustus 2009.
Panjang sekitar 6,1 meter, lebar sekitar 70 cm.
Penggalian tahun 1970an memperlihatkan bahwa tinggi badan waruga lebih dari 4 meter.

Ekspedisi waruga Opo Siouw Kurur (Siou Kundu/Batu Panjang) di Sonder 8 Agustus 2009.

Ekspedisi waruga Opo Siouw Kurur (Siou Kundu/Batu Panjang) di Sonder 8 Agustus 2009.

Ekspedisi waruga Opo Siouw Kurur (Siou Kundu/Batu Panjang) di Sonder 8 Agustus 2009.

Air terjun di kompleks waruga/batu panjang, tinggi sekitar 40-50 meter.

Mujur da dapa ular patola/tumotongko yang jatuh dari air terjun.

Bla tu puru for mo ambe ular pe daging deng kuli.

Ini depe kapala ular patola (jantan).

Ekspedisi waruga Opo Siouw Kurur (Siou Kundu/Batu Panjang) di Sonder 8 Agustus 2009.


Galeri Foto Pribadi: dari WOC 2009

Uang PRRI - Permesta yang ditandatangani Waperdam Joop Warouw.
Pameran WOC-CTI Summit di Kayuwatu, 15 Mei 2009.

Pameran WOC-CTI Summit di Kayuwatu, 15 Mei 2009.

Pameran WOC-CTI Summit di Kayuwatu, 15 Mei 2009.

Ikon WOC
Pameran WOC-CTI Summit di Kayuwatu, 15 Mei 2009.

Galeri Foto Pribadi: Bukit Inspirasi

Bode di bola Bukit Inspirasi, 9 Mei 2009.

Kamis, 06 Agustus 2009

Galeri Foto Minahasa: Peringatan 200 Tahun Perang (Minahasa di) Tondano 5 Agustus 1809-2009

Pasukan Borgo & pemuda Alifuru Tondano saat perang Tondano 1809 (berdasarkan sketsa 1823) serta foto Peringatan tahun 1962.

Peringatan Perang Tondano 1809-1962 dengan pendirian Tugu Peringatan di lokasi ex Benteng Moraya tanggal 5 Agustus 1962.

Gereja GMIM Sentrum Tondano masa kini
(5 Agustus 2009).

Lapangan Dr. Sam Ratulangi dengan latar belakang Gereja GMIM Sentrum Tondano masa kini (5 Agustus 2009).

Tugu Dr. Sam Ratulangi di depan kantor bupati Minahasa (5 Agustus 2009).

Waruga di depan kantor bupati Minahasa (5 Agustus 2009).

Peta Minawanua Tondano dan Benteng Moraya tahun 1809 saat Perang Tondano.

Berfoto sejenak di tugu Korengkeng-Sarapung, dua tokoh Perang Tondano, sebelum menuju Minawanua (5 Agustus 2009).

Perjalanan ke Minawanua disuguhi pemandangan: enceng gondok dan peternakan bebek (5 Agustus 2009).

Kuala Temberan - Tondano koni dengan om yang mancari ikang dengan perahu bolotu
(5 Agustus 2009).

Pesisir kuala Temberan di samping timur Minawanua
(5 Agustus 2009).

Om Welly Walalangi (64 tahun) menunjukkan dua buah waruga Minawanua yang rusak dibongkar vandalis. "Ada sekitar 96 waruga yang ada di sini. Sebelum tahun 2000 ada beberapa yang da bawa ka Kompleks Waruga Airmadidi."
(5 Agustus 2009).

Waruga ini (5 Agustus 2009).

Waruga itu.
Waruga ketiga ini ada tulisan
(5 Agustus 2009).

Bode Talumewo berdiri di atas bekas fondasi tiang rumah Minawanua
(5 Agustus 2009).

Bode Talumewo berdiri di atas bekas fondasi tiang rumah Minawanua
(5 Agustus 2009).

Bode Talumewo berdiri di atas bekas fondasi tiang rumah Minawanua
(5 Agustus 2009).

Om Welly Walalangi (64 tahun) menunjukkan situs Minawanua di belakang rumahnya, melewati rawa enceng gondok. Sempat da tapalisi di sini kong maso got rawa (5 Agustus 2009).
Om Welly Walalangi (64 tahun): "...depe basar tu fondasi tiang sama deng ini.... (sebesar pelukan dua orang dewasa)."
Ada 6 tiang fondasi jarak 3 meter masing-masingnya, memanjang dari utara ke selatan.



Rapat panitia Peringatan 200 Tahun Perang Tondano (Perang Minahasa di Tondano) 4-5 Agustus 1809-2009.
di ex Hotel Roong - Tondano. Ketua panitia Laksamana Muda Willem Rampangilei - Dan Lantamal VIII Bitung.

Koleksi www.bode-talumewo.blogspot.com
===================================================================
"Tabea Waya!
Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawan, kisah dan kedudukan kaumnya di sepanjang masa!
Minahasa adalah bangsa yang basar!
Karena itu hargai akang torang pe Dotu-dotu deng samua yang dorang kase tinggal for torang!
Pakatuan wo pakalawiren!
Sa esa cita sumerar cita, sa cita sumerar esa cita! Kalu torang bersatu torang musti bapencar, biar lei torang bapencar torang tetap satu!
I Yayat U Santi!"
===================================================================

Senin, 27 Juli 2009

Galeri Foto Minahasa: Naskah A.B. Waworuntu 1888

Naskah AB Waworuntu 19 Februari 1888 lembar 1 (pertama)

Naskah AB Waworuntu 19 Februari 1888 lembar 4 (terakhir)


Koleksi www.bode-talumewo.blogspot.com

===================================================================
"Tabea Waya!
Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawan, kisah dan kedudukan kaumnya di sepanjang masa!
Minahasa adalah bangsa yang basar!
Karena itu hargai akang torang pe Dotu-dotu deng samua yang dorang kase tinggal for torang!
Pakatuan wo pakalawiren!
Sa esa cita sumerar cita, sa cita sumerar esa cita! Kalu torang bersatu torang musti bapencar, biar lei torang bapencar torang tetap satu!
I Yayat U Santi!"
===================================================================

Galeri Foto Permesta: Peta & Doi Permesta


Logo rokok Permesta yang dibuat oleh Tarcy Paat. Menjadi merek rokok "Permesta" yang beredar di hutan-hutan 1958-1960.


Peta Wilayah Operasi Permesta 1958-1961.

Peta Gerakan Tentara Pusat menghadapi Tentara Permesta pada 1958.

Doi PRRI-Permesta Rp 100,-

Doi PRRI-Permesta Rp 500,-

Perangko PRRI-Permesta Rp 1,-
Perangko PRRI-Permesta Rp 2,-

Koleksi www.bode-talumewo.blogspot.com
===================================================================
"Tabea Waya!
Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawan, kisah dan kedudukan kaumnya di sepanjang masa!
Minahasa adalah bangsa yang basar!
Karena itu hargai akang torang pe Dotu-dotu deng samua yang dorang kase tinggal for torang!
Pakatuan wo pakalawiren!
Sa esa cita sumerar cita, sa cita sumerar esa cita! Kalu torang bersatu torang musti bapencar, biar lei torang bapencar torang tetap satu!
I Yayat U Santi!"
===================================================================

Naskah Keppres No. 449/1961 tgl 17 Agt 1961 & Keppres No. 568/1961 tgl 18 Okt 1961 ttg Pemberian Amnesti & Abolisi

Keppres No. 449/1961 Tanggal 17 Agustus 1961
Tentang Pemberian Amnesti dan Abolisi Kepada Orang-orang yang Tersangkut dengan Pemberontakan


KEPUTUSAN PRESIDEN

Tentang:

PEMBERIAN AMNESTI DAN ABOLISI KEPADA ORANG-ORANG YANG TERSANGKUT DENGAN PEMBERONTAKAN

KAMI, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang:

1. Bahwa perlu menaruh perhatian sepenuhnya terhadap keinsyafan orang-orang yang tersangkut dengan pemberontakan Daud Bereueh di Aceh, pemberontakan "Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia" dan "Perjuangan Semesta" di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku, Irian Barat dan lain-lain daerah, pemberontakan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan, pemberontakan Kartosuwirjo di Jawa Barat dan Jawa Tengah, pemberontakan Ibnu Hadjar di Kalimantan Selatan, pemberontakan "Republik Maluku Selatan" di Maluku, yang kembali kepangkuan Republik Indonesia;

2. Bahwa untuk kepentingan Negara dan kesatuan Bangsa, perlu memberikan amnesti dan abolisi kepada orang-orang yang tersebut diatas, yang dengan keinsyafan telah kembali kepangkuan Republik Indonesia, dengan jalan menyediakan membaktikan diri kepada Republik Indonesia dihadapan penguasa setempat, yaitu Penguasa Keadaan Bahaya Daerah atau Gubernur Kepala Daerah atau Kepala Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri atau pejabat yang ditunjuk olehnya;

Mengingat: Pasal 14 Undang-Undang Dasar;

Mendengar: Pertimbangan Badan Pembantu Penguasa Perang Tertinggi dalam sidangnya ke-17 pada tanggal 28 Juli 1961

MEMUTUSKAN :

Menetapkan:

Pertama : Memberi amnesti dan abolisi kepada orang-orang yang tersangkut dengan pemberontakan Daud Bereueh di Aceh pemberontakan "Pemerintah Revolusinoer Republik Indonesia" dan "Perjuangan Semesta" di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Jambi. Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku, Irian Barat dan lain-lain daerah. Pemberontakan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan, Pemberontakan Kartosuwiryo di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Pemberontakan Ibnu Hajar di Kalimantan Selatan, pemberontakan "Republik Maluku Selatan" di Maluku, yang selambat-lambatnya pada tanggal 5 Oktober 1961 telah melaporkan dan menyediakan membaktikan diri kepada Republik Indonesia, yang disertai dengan sumpah menurut Agama masing-masing serta penandatanganan atas sumpah itu dengan lafal yang berikut: "Saya bersumpah setia kepada Undang-undang Dasar, Manifestasi Politik yang telah menjadi Garis-garis Besar dari pada Haluan Negara, Nusa dan Bangsa, Revolusi dan Pemimpin Besar Revolusi", dihadapan penguasa setempat, yaitu Penguasa Keadaan Bahaya Daerah atau Kepala Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri atau Gubernur Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk olehnya.

Kedua : Amnesti dan abolisi diberikan kepada mereka yang tersebut dalam ketentuan pertama, mengenai tindak pidana yang mereka lakukan dan yang merupakan kejahatan:

1. terhadap keamanan Negara (Bab I Buku II Kitab Undang-undang Hukum Pidana);

2. terhadap martabat Kepala Negara (Bab II Buku II Kitab Undang undang Hukum Pidana);

3. terhadap kewajiban kenegaraan dan hak kenegaraan (Bab IV Buku II Kitab Undang-undang Hukum Pidana);

4. terhadap ketertiban umum (Bab V Buku II Kitab Undang-undang Hukum Pidana);

5. terhadap kekuasaan umum (Bab VII Buku II Kitab Undang-undang Hukum Pidana);

6. terhadap keamanan Negara (Bab I Buku II Kitab Undang-undang Hukum Pidana Tentara);

7. terhadap kewajiban dinas (Bab III dan Bab V buku II Kitab Undang-undang Hukum Pidana Tentara);

8. terhadap ketaatan (Bab IV Buku II Kitab Undang-undang Hukum Pidana Tentara).

9. dan tindak pidana lain yang ada hubungan sebab akibat atau hubungan antar tujuan dan supaya dengan tindak pidana yang tersebut angka 1 sampai dengan 8 diatas.

Ketiga: (1) Dengan pemberian amnesti, semua akibat hukum pidana terhadap orang-orang yang dimaksudkan dalam ketentuan Pertama dan Kedua, dihapuskan.

(2) Dengan pemberian abolisi, maka penuntutan terhadap orang-orang yang dimaksudkan dalam ketentuan Pertama dan Kedua, ditiadakan.

Keempat: Dengan keluarnya Keputusan ini, maka Keputusan-keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 180 tahun 1959, Nomor 303 tahun 1959, Nomor 322 tahun 1961 dan Nomor 375 tahun 1961 tidak diperlukan lagi dengan Keputusan ini dicabut.

Kelima: Keputusan ini mulai berlaku pada hari ditetapkan.

Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Keputusan ini dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 17 Agustus 1961.
Presiden Republik Indonesia,

SOEKARNO.

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 17 Agustus 1961.
Sekretaris Negara.

MOHD. ICHSAN.

Lampiran 12






============================================================================================


Keppres No. 568/1961 Tanggal 18 Oktober 1961, Tentang Tindakan Imbangan Terhadap Pemberian Amnesti dan Abolisi Kepada Pemberontak/Gerombolan, yang Menyerah Tanpa Syarat Menurut Keputusan Presiden RI No. 449 Tahun 1961


KEPUTUSAN PRESIDEN

Tentang:
TINDAKAN IMBANGAN TERHADAP PEMBERIAN AMNESTI DAN ABOLISI
KEPADA PEMBERONTAK/GEROMBOLAN, YANG MENYERAH TANPA SYARAT MENURUT KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 449 TAHUN 1961

Presiden Republik Indonesia,

Menimbang:

Bahwa tindakan pemberian amnesti dan abolisi sebagai pemberian ampunan kepada pemberontak/gerombolan dalam rangka pemulihan keamanan, yang tanpa syarat telah menyerah kepada Pemerintah karena keinsyafan, hendaknya diimbangi dengan pemberian pengampunan secara lain kepada orang-orang tertentu, yang juga telah melakukan penyelewengan yang sama, akan tetapi tidak mendapatkan amnesti atau abolisi.

Mengingat:

1. Pasal 14 Undang-undang Dasar;
2. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 449 tahun 1961.

Mendengar:

1. Pertimbangan Badan Pembantu Penguasa Perang Tertinggi dalam sidangnya ke-17 pada tanggal 28 Juli 1961;

2. Musyawarah Kabinet Kerja pada tanggal 17 Oktober 1961.

MEMUTUSKAN :

Menetapkan:

PERTAMA Kepada orang-orang yang tersangkut dengan suatu pemberontakan melakukan tindak pidana tersebut dalam ketentuan Kedua Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 449 tahun 1961 akan tetapi tidak mendapat amnesti atau abolisi, karena pemberontakan itu tidak termasuk pemberontakan yang dimaksudkan dalam ketentuan Pertama Keputusan Presiden tersebut, ataupun karena mereka tidak menyerahkan diri melainkan ditangkap sebelum tanggal 17 Agustus 1961 karena telah atau disangka melakukan tindak pidana tersebut di atas, dapat diberi keringanan yang wajar berupa pemberian grasi dari hukuman penjara, yang dengan keputusan Hakim telah atau akan dijatuhkan padanya;

KEDUA Mewajibkan Menteri Kehakiman untuk menyiapkan segala sesuatu, supaya pemberian grasi tersebut dalam ketentuan Pertama dapat dilaksanakan;

KETIGA Mewajibkan pada Menteri/Kepala Staf Angkatan dan Menteri/Jaksa Agung, dalam melakukan wewenang penyidikan / penuntutan / penyampingan perkara tindak pidana tersebut dalam ketentuan pertama di atas, untuk bertindak sesuai dengan jiwa pemberian grasi yang dimaksud dalam ketentuan pertama dan dengan pemberian amnesti/abolisi yang dimaksud dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 449 tahun 1961 tersebut;

KEEMPAT Keputusan ini mulai berlaku pada hari ditetapkan. Agar supaya setiap orang, dapat mengetahuinya, memerintahkan penempatan keputusan ini dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 18 Oktober 1961.
Presiden Republik Indonesia,

SOEKARNO.

--------------------------------------------------------------------


* PENJELASAN KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 568 TAHUN 1961.

Sesuai dengan kebijaksanaan di bidang keamanan yang diamanatkan dalam Manifesto Politik dan yang sekarang telah menjadi garis-garis besar daripada Haluan Negara, maka sebagai tanda kebesaran jiwa Negara dan Bangsa diberikanlah suatu pengampunan dan pengayoman, yang diwujudkan oleh Presiden dalam suatu Peraturan Presiden tentang garis kebijaksanaan terhadap pemberontak dan gerombolan yang menyerah, yang memuat pemberian amnesti dan abolisi kepada pemberontak dan gerombolan yang selambat-lambatnya pada tanggal 5 Oktober 1961 telah menyerah tanpa syarat dan kembali ke pangkuan Republik Indonesia dihadapan penguasa setempat.

Amnesti dan abolisi ini diberikan menurut ketentuan-ketentuan dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 449 tahun 1961.

Dengan pemberian amnesti dan abolisi itu semua akibat hukum-pidana terhadap orang-orang yang bersangkutan dihapuskan, dan (meskipun sudah termasuk di dalamnya) penuntutan terhadap orang-orang itu ditiadakan.

--------------------------------


Koleksi www.bode-talumewo.blogspot.com
===================================================================
"Tabea Waya!
Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawan, kisah dan kedudukan kaumnya di sepanjang masa!
Minahasa adalah bangsa yang basar!
Karena itu hargai akang torang pe Dotu-dotu deng samua yang dorang kase tinggal for torang!
Pakatuan wo pakalawiren!
Sa esa cita sumerar cita, sa cita sumerar esa cita! Kalu torang bersatu torang musti bapencar, biar lei torang bapencar torang tetap satu!
I Yayat U Santi!"
===================================================================

Naskah Keppres No. 322/1961 Tgl 22 Juni 1961 ttg Pemberian Amnesti & Abolisi Kepada Para Pengikut Gerakan “Permesta”

Keppres No. 322/1961 Tanggal 22 Juni 1961
Tentang Pemberian Amnesti dan Abolisi Kepada Para Pengikut

Gerakan “Permesta” di bawah Pimpinan Kawilarang, Laurens Saerang, dan Somba yang Memenuhi Panggilan Pemerintah Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi




KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NO. 322 TAHUN 1961

 
T E N T A N G
 
PEMBERIAN AMNESTI DAN ABOLISI KEPADA PARA PENGIKUT GERAKAN
"PERMESTA" DIBAWAH PIMPINAN KAWILARANG, LAURENS SAERANG, DAN
SOMBA JANG MEMENUHI PANGGILAN PEMERINTAH
KEMBALI KEPANGKUAN IBU PERTIWI


KAMI, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
 
Menimbang        : a. bahwa perlu menaruh perhatian sepenuhnja
                      terhadap keinsjafan bekas para pengikut
                      gerakan "Permesta" untuk kembali 
                      kepangkuan Ibu Pertiwi;
                   b. bahwa untuk kepentingan Negara dan 
                      kesatuan bangsa perlu memberikan 
                      amnesti dan abolisi kepada para pengikut 
                      gerakan "Permesta" dibawah pimpinan 
                      Kawilarang, Laurens Saerang dan Somba 
                      jang dengan keinsjafan telah kembali
                      kepangkuan Ibu Pertiwi dengan djalan 
                      menjediakan diri untuk berbakti kepada 
                      Negara ;
 
Memperhatikan    :  Usul dari Menteri Keamanan Nasional ;
 
Mengingat        :  1. Pasal 14 Undang-undang Dasar ;
                    2. Undang-undang No.10 Prp tahun 1960 
                    (LN 1960 No.31)
M E M U T U S K A N :
 
Menetapkan      :
   Pertama      :  Memberikan amnesti dan abolisi kepada para 
                   pengikut gerakan "Permesta" dibawah pimpinan 
                   Kawilarang, Laurens Saerang dan Somba jang 
                   telah memenuhi panggilan Pemerintah untuk 
                   kembali kepangkuan Ibu Pertiwi.
                     
   Kedua      (1)  dengan memberikan amnesti, maka semua akibat 
                   hukum pidana terhadap orang-orang jang 
                   termaksud dalam ketentuan PERTAMA 
                   dihapuskan.
              (2)  dengan memberikan abolisi, maka penuntutan 
                   terhadap orang-orang jang termaksud dalam 
                   ketentuan PERTAMA ditiadakan.
   Ketiga       :  Pelaksanaan dari keputusan ini dilandjutkan 
                   oleh Menteri Keamanan Nasional sedangkan 
                   kelandjutannja (follow-up) mendjadi tugas 
                   departemen jang bersangkutan dibawah 
                   koordinasi Menteri Keamanan Nasional.
   Keempat      :  Keputusan ini berlaku pada hari ditetapkan.
 
                          Ditetapkan    : Djakarta
                          Pada tanggal  : 22 Djuni 1961
 
                          PD PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
 
  T.T.D.
                           D J U A N D A 
 
                                   Sesuai dengan jang aseli
                                   Adjun Sekretaris Negara,
                                         t.t.d.
                                    Mr. S A N T O S O
                               
                               Sesuai dengan bunji salinannja,
                                       jang menjalin,
                                          t.t.d.
                                   H.P. T A L U M E P A
                                        S i p i l


Koleksi www.bode-talumewo.blogspot.com
===================================================================
"Tabea Waya!
Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawan, kisah dan kedudukan kaumnya di sepanjang masa!
Minahasa adalah bangsa yang basar!
Karena itu hargai akang torang pe Dotu-dotu deng samua yang dorang kase tinggal for torang!
Pakatuan wo pakalawiren!
Sa esa cita sumerar cita, sa cita sumerar esa cita! Kalu torang bersatu torang musti bapencar, biar lei torang bapencar torang tetap satu!
I Yayat U Santi!"
===================================================================

Persetujuan tanggal 12 Mei 1961 antara Panglima Besar Permesta dan MKN/KSAD TNI di Kamasi

Persetujuan tanggal 12 Mei 1961 antara Panglima Besar Permesta dan MKN/KSAD TNI di Kamasi


Pertemuan diadakan di rumah Keluarga Hans Tular di Tomohon tanggal 12 Mei 1961, dimulai pada pukul 09.00

antaraPanglima Besar Angkatan Perang Permesta Mayor Jenderal Revolusioner Alex E. Kawilarang

dengan Menteri Keamanan Nasional RI / Kepala Staf TNI-AD Jenderal TNI A.H. Nasution,

yang turut dihadiri oleh seorang perwira CPM,KSAP Permesta Kolonel Dolf Runturambi,

Sekjen Permesta Letkol tituler A.C.J. (Abe) Mantiri.


Mengenai penyelesaian pasukan Permesta, KSAD TNI Jenderal A.H. Nasution menjelaskan:

(a) Perwira-perwira bekas TNI tetap akan memiliki tanda pangkat TNI yang dimilikinya pada 17 Februari 1958;

(b) Perwira-perwira yang sekarang mempunyai tanda pangkat yang lebih tinggi dari pangkat 17 Februari 1958,

dapat diterima kalau sesuai dengan jabatan yang dipegangnya sekarang;

(c) komandan-komandan kompi, regu, peleton yang bukan bekas TNI akan dimasukkan dalam pendidikan untuk

jabatan-jabatan yang mereka duduki sekarang; pemuda yang menjadi anggota pasukan akan diberikan

pendidikan militer;

(d) pelajar-pelajar boleh kembali ke bangku sekolah;

(e) mengenai angkatan lain seperti POLREV-AUREV-ALREV (POLRI-AURI-ALRI) mereka boleh kembali

ke kesatuan masing-masing setelah melapor kepada sebuah panitia yang akan dibentuk bersama antara TNI

dan Permesta;

(f) anggota-anggota pemerintahan sipil dapat kembali ke jawatannya semula sesuai dengan ketentuan yaitu,

melalui panitia yang disebut pada sub e di atas.


Koleksi www.bode-talumewo.blogspot.com
===================================================================
"Tabea Waya!
Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawan, kisah dan kedudukan kaumnya di sepanjang masa!
Minahasa adalah bangsa yang basar!
Karena itu hargai akang torang pe Dotu-dotu deng samua yang dorang kase tinggal for torang!
Pakatuan wo pakalawiren!
Sa esa cita sumerar cita, sa cita sumerar esa cita! Kalu torang bersatu torang musti bapencar, biar lei torang bapencar torang tetap satu!
I Yayat U Santi!"
===================================================================

Naskah Pernyataan Panglima KDM-SUT Permesta utk Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi tgl 4 April 1961 di Malenos

Pernyataan Panglima KDM-SUT Permesta untuk Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi

Tanggal 4 April 1961 di Malenos


1. Setelah membatja seruan Menteri Keamanan Nasution/KSAD tertanggal 3 Maret 1961;

2. Mengingat keputusan terachir dari putjuk pimpinan Angkatan Perang Revolusioner;

3. Menimbang, bahwa persengketaan antara kita dengan kita jang telah berlangsung selama 3 tahun ini, telah meminta pengorbanan jang tidak terhingga dari rakjat Indonesia pada umumnja dan rakjat Sulawesi Utara dan Tengah pada chususnja sehingga kami telah sampai pada kesimpulan bahwa keadaan sematjam ini tidak dapat dibiarkan terus;

4. Demi untuk keselamatan dan kesentosaan bangsa Indonesia, rakjat dan daerah Sulawesi Utara/Tengah chususnja, persengketaan tersebut perlu segera dihentikan. Maka oleh karenanja dengan ini menjatakan bahwa mulai tanggal 4 April 1961, kami dengan seluruh pasukan dan rakjat Permesta jang berada dalam lingkungan pimpinan kami telah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi;

5. Segala persoalan jang timbul sebagai akibat daripada penghentian persengketaan ini, akan diatur oleh

jang diwajibkan untuk itu oleh pemerintah RI;

6. Semoga Tuhan Jang Maha Esa melimpahkan rahmat, hidajat serta taufikNja atas kita sekalian.

Disaksikan/mengetahui
Panglima KODAM XIII/
Penguasa Perang Daerah
Sulawesi Utara/Tengah
             ttd
Soenandar Prijosudarmo
    Kol. Inf. Nrp 10827

Ditempat, 4 April 1961
Panglima K.D.M. S.U.T.

ttd

 
    (D.J. Somba)             
 
Koleksi www.bode-talumewo.blogspot.com
===================================================================
"Tabea Waya!
Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawan, kisah dan kedudukan kaumnya di sepanjang masa!
Minahasa adalah bangsa yang basar!
Karena itu hargai akang torang pe Dotu-dotu deng samua yang dorang kase tinggal for torang!
Pakatuan wo pakalawiren!
Sa esa cita sumerar cita, sa cita sumerar esa cita! Kalu torang bersatu torang musti bapencar, biar lei torang bapencar torang tetap satu!
I Yayat U Santi!"
===================================================================

Naskah Resolusi Konferensi Veteran Sulawesi Utara/Tengah tgl 26-27 Februari 1958 di Manado

Resolusi Konferensi Veteran Sulawesi Utara/Tengah
Tanggal 26-27 Februari 1958 di Manado
 
RESOLUSI Konferensi Veteran Sulawesi Utara/Tengah jang dilaksanakan di Manado dan dihadiri oleh tokoh2
Veteran, wakil2 kelaskaran serta wakil dari daerah Luwuk Banggai, Posso, Palu/Donggala, Bolaang
Mongondow, Minahasa, Manado, Sangir Talaud dan Gorontalo membahas setjara mendalam pergolakan2
di tanah air pada saat itu, menjimpulkan keputusan sebagai berikut:
 
A.1. Mendukung sepenuhnja pernjataan KDM/Gubernur Militer SUT jang ditetapkan tanggal 17-2-1958.
   2.  Mengutuk tindakan Djuanda & KSAD terhadap pergolakan di Sumatera Tengah dan Sulawesi Utara.
   3.  Sehidup semati dengan tokoh2 Permesta seraja menentang keras perintah KSAD tentang pemetjatan/
penangkapan Somba cs.
B.1. Mendesak supaja semua anggota Veteran dipersendjatai kembali, untuk merealisasikan dan
mempertahankan PERMESTA.
   2.  Supaya dibentuk kesatuan Veteran bersendjata jang dipimpin oleh Veteran.
   3.  Agar penjusunan kesatuan2 tersebut dipertjajakan kepada Veteran, jang disesuaikan dengan ketentuan2
Gubernur Militer.
   4.  Supaya segera menempatkan tenaga2 Veteran pada segala bidang.
 
Atas nama Konperensi Veteran,
t.t.d. - 1. John F. Malonda (Ketua),
         2. S.D. Wuisan, 
         3. Dj.A. Musmar, 
         4. A.F. Nelwan, 
         5. Theo Najoan, 
         6. H. D. Johannis, 
         7. W. Malele, 
         8. Kol. Tinangon, 
         9. R.R. Lumi, 
         10. Wim Gerungan, 
         11. John Somba, 
         12. Se8l Ali Sakibu, 
         13. Abd. Haris Renggah, 
         14. Anang Idjah, 
         15. F.S.U. Siwu, 
         16. Ibu Lasut-Monding, 

17. Ibu Mewengkang-Tampi.


Koleksi www.bode-talumewo.blogspot.com
===================================================================
"Tabea Waya!
Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawan, kisah dan kedudukan kaumnya di sepanjang masa!
Minahasa adalah bangsa yang basar!
Karena itu hargai akang torang pe Dotu-dotu deng samua yang dorang kase tinggal for torang!
Pakatuan wo pakalawiren!
Sa esa cita sumerar cita, sa cita sumerar esa cita! Kalu torang bersatu torang musti bapencar, biar lei torang bapencar torang tetap satu!
I Yayat U Santi!"
===================================================================

Pernyataan Panglima/Gubernur Militer KDM-SUT Permesta yg memutuskan hubungan dgn Pemerintah Pusat tgl 17 Februari 1958

Pernyataan Panglima/Gubernur Militer KDM-SUT Permesta yang memutuskan hubungan dengan Pemerintah Pusat tanggal 17 Februari 1958


Pada tanggal 17 Februari 1958 pukul 07.00 diadakan pertemuan di ruang rapat gedung Universitas Permesta di Sario Manado dengan tokoh² politik, masyarakat dan cendikiawan. MC (moderator) saat itu adalah Kapten Wim Najoan. Secara singkat, Panglima KDM-SUT memberikan gambaran tentang perkembangan di Sumatera dan putusan dibentuknya PRRI dua hari lalu, tanggal 15 Februari 1958. Selanjutnya Panglima KDM-SUT memberitahukan pada rapat tersebut, putusan sbb:


"Permesta di Sulutteng menyatakan solider dan sepenuhnya mendukung pernyataan PRRI. Oleh sebab itu, mulai saat ini juga Permesta memutuskan hubungan dengan Pemerintah RI Kabinet Djuanda".


Setelah rapat diskors 30 menit untuk menyusun teks pemutusan hubungan dengan pusat maka pertemuan dibuka kembali dan teks tersebut dibacakan. Setelah itu emosi hadirin meledak. Setelah Mayor Dolf Runturambi bertanya kepada hadirin, "Bagaimana, saudara-saudara setuju?" Serentak dijawab: "Setuju! Setuju!". Kembali suasana dipenuhi oleh antusiasme yang berapi-api, walau tampak beberapa orang yang tetap bungkam.


Kemudian diadakan pertemuan umum raksasa di Lapangan Sario Manado pada pukul 11.00. Letkol D.J. Somba selaku Panglima/Gubernur Militer KDM-SUT atas nama rakyat dan tentara Sulutteng, membacakan teks pemutusan hubungan dengan Pemerintah Pusat di Jakarta. Isi dari teks tersebut adalah:


"RAKYAT SULUTTENG TERMASUK MILITER SOLIDER PADA KEPUTUSAN P.R.R.I. DAN MEMUTUSKAN HUBUNGAN DENGAN PEMERINTAH R.I."


Pukul 20.00 malam hari, Kastaf KDM-SUT Mayor Dolf Runturambi membacakan teks pemutusan hubungan dengan pusat dalam bahasa Inggris melalui RRI (Radio Permesta).


Koleksi www.bode-talumewo.blogspot.com

===================================================================
"Tabea Waya!
Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawan, kisah dan kedudukan kaumnya di sepanjang masa!
Minahasa adalah bangsa yang basar!
Karena itu hargai akang torang pe Dotu-dotu deng samua yang dorang kase tinggal for torang!
Pakatuan wo pakalawiren!
Sa esa cita sumerar cita, sa cita sumerar esa cita! Kalu torang bersatu torang musti bapencar, biar lei torang bapencar torang tetap satu!
I Yayat U Santi!"
===================================================================

Minggu, 26 Juli 2009

Naskah Piagam Perjuangan Menyelamatkan Negara 10 Pebruari 1958

Piagam Perjuangan Menyelamatkan Negara


Republik Indonesia yang kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, adalah suatu Negara Hukum dan Kebangsaan,

yang berdasarkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, di mana kedaulatan mengurus rumah tangga Negara

berdasarkan Perikemanusiaan dan Musyawarah berada di tangan rakyat, guna mencapai Keadilan Sosial dan kemakmuran

rakyat lahir dan bathin.

Republik Indonesia dewasa ini diancam keruntuhan disebabkan oleh:

a. Pelanggaran-pelanggaran atas Undang-Undang Dasar yang dilakukan oleh Kepala Negara;

b. Merajalelanya hasut-menghasut dan kezaliman yang menghilangkan lembaga-lembaga demokrasi guna musyawarah;

c. Masuknya anasir-anasir anti Tuhan dalam pusat kekuasaan negara, sehingga terancam hidupnya sendi Ketuhanan

Yang Maha Esa;

d. Merosotnya nilai-nilai moral dan akhlak dalam hidup bernegara dan bermasyarakat;

e. Kerusakan sumber-sumber kehidupan rakyat sebagai akibat penyalah-gunaan kekuasaan dalam menghadapi

persoalan-persoalan ekonomi.

Setelah memperhatikan semua gejala-gejala dan bahaya keruntuhan Negara dan Bangsa yang dari hari ke hari makin

dekat, dan setelah mempertimbangkan sedalam-dalamnya, bahwa demi keselamatan Negara dan Bangsa Indonesia,

maka satu-satunya jalan untuk melindungi Negara Republik Indonesia dari pada keruntuhannya dan melepaskan rakyat

dari penderitaan lahir dan batin adalah :

1. Menegakkan kembali Undang-Undang Dasar Sementara sebagai dasar hukum yang tertinggi dalam Negara

Kesatuan Republik Indonesia dan memperjuangkan kembalinya Kepala Negara kepada kedudukan yang

konstitusional serta melepaskan segala macam akibat konsepsinya yang melanggar UUD.

2. Menyerahkan pemerintahan kepada satu Kabinet yang mempunyai kewibawaan, yang dapat memulihkan

kepercayaan dari seluruh wilayah Republik Indonesia dan yang dibentuk menurut jalan yang konstitusional.

3. Memberantas korupsi dan birokrasi disebabkan oleh sentralisme yang telah melewati batas, yang menjadi

penghalang bagi pembangunan yang adil dan merata antara daerah-daerah Indonesia, serta perkembangan

bakat potensi dan tanggung jawabnya, baik di lapangan ekonomi, keuangan dan ketatanegaraan.

4. Menegakkan kembali dan melindungi nilai-nilai dan tata cara hidup dan budi pekerti di seluruh lapangan

kehidupan rakyat dan kenegaraan, yang didasarkan Keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

5. Menegakkan demokrasi ekonomi dan keadilan sosial, sesuai dengan Undang-Undang Dasar Sementara pasal 38.


Oleh karena:

a. Setelah menempuh semua jalan yang lazim untuk mencapai syarat-syarat ini, dan ternyata buntu.

b. Bersumber kecintaan kami kepada Republik Indonesia yang sudah kami proklamirkan pada tahun 1945 dan

yang sama-sama kita bayar dengan jiwa dan raga.

c. Berdasarkan kepada pertimbangan tersebut dan untuk mencapai jalan ke luar guna menyelamatkan Negara

dari kehancurannya.

d. Digerakkan oleh rasa tanggung jawab untuk memelihara keutuhan Republik Indonesia dan kesejahteraan bangsa