Bangsa Minahasa

Setiap bangsa yang ingin mempertahankan jati dirinya, harus menghargai warisan suci tradisi dan budaya dari para leluhurnya; Kita (bangsa Minahasa) harus memelihara dan mempertahankan tradisi dan budaya bangsa Minahasa dengan segenap kemampuan dan semangat, karena semangat itu sendiri tidak lain mengandung tradisi dan budaya Minahasa. (Dr. Sam Ratulangi: Fikiran - 31 Mei 1930)

Saya tidak akan mempermasalahkan apakah keberadaan bangsa kami Minahasa disukai atau tidak, karena itu adalah permasalahan teoritis. Bagi saya dan bangsa saya Minahasa, sudah jelas, bahwa kami memiliki hak untuk eksis.
Jadi, tugas kami adalah bagaimana menjamin kelanjutan eksistensi bangsa Minahasa ini, dan sedapat mungkin memperkecil penetrasi asing. Kami berusaha untuk merumuskan suatu tujuan yang sesuai dengan kecenderungan-kecenderungan rakyat kami dalam menjalankan tugas tadi. Dan agar usaha-usaha kami itu dapat diterima dan dihargai, kita perlu mengenal hal-hal yang mendasarinya, yaitu: posisi Minahasa selama ini terhadap negara-negara sekitarnya.
("Het Minahassisch Ideaal" / Cita-cita Minahasa oleh DR. GSSJ Ratu Langie, ‘s-Gravenhage, Belanda - 28 Maart 1914)

Rabu, 04 Februari 2009

Buku Pribadi: Profil Pahlawan Bangsa Minahasa

Di bawah ini adalah sebuah buku saya yang bercerita tentang para tokoh bangsa Minahasa yang berkarya sepanjang masa. Saya telah menulisnya sejak tahun 2006 hingga sekarang. Apabila anda melihat perjalanan saya serta foto2 yang sudah saya publikasikan di blog ini, salah satu tujuannya tak lain adalah untuk memperlengkapi buku ini.

Bila ada orang tua/saudara/kenalan/dll yang anda pikir dapat saya masukkan dalam buku ini,, atau ada rekomendsasi untuk nama-nama tertentu, tolong hubungi saya.

=======================================================================

PROFIL
PAHLAWAN-PAHLAWAN
BANGSA MINAHASA

Oleh
Bodewyn Grey Talumewo

Manado
2009
==============================================

PAHLAWAN-PAHLAWAN BANGSA MINAHASA
Oleh: Bodewyn Grey Talumewo

(c)2008, Bodewyn Grey Talumewo
Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang


Kredit foto: Dokumentasi pribadi.

Cetakan Pertama: ....


Bodewyn Grey Talumewo
http://www.talumewo.8m.com
e-mail:webmaster@ talumewo.8m.com, talumewo@yahoo.com


Manado - Minahasa

=================================================================
Daftar Isi

Latar Belakang Pengkategorian
Mengenal Bangsa Minahasa
*/ Pahlawan Perang Malesung (Pra-1809)
Pingkan Mogogunoy & Makaware' Matindas
LENGKONG WUAYA
LOLONG ARES
LUMI/Worotikan
Hukum Mayoor Sahiri SUPIT
Hukum Mayoor LONTOH Tuunan
Hukum Mayoor PAAT Kolano
Ukung PANGALILA
Ukung LONTOH Tuunan
Ukung MATULANDI
Ukung TEWU
Ukung MAMAHIT
KORENGKENG
SARAPUNG

*/ Tokoh Minahasa Masa Hindia-Belanda (Setelah 1809)
Hukum Mayoor H.C. Waworuntu
Mayoor A.B. Waworuntu
Mayoor Hendrik A. Warokka
Willem H. Warokka
Jurian Benjamin Tambajong
Joost Tambajong
Mayoor Mangangantung/Ngantung Palar
Lucas Wenas
Mayoor Bintang A.L. Waworuntu (Bert)
E.W.J. Waworuntu (Pius)
Mayoor Herman A. Wenas
Mayoor J.A. Kawilarang
Mayoor Nicholas E. Mogot
Hoofdjaksa A.B. Kalengkongan
Mayoor Theodorus E. Gerungan
Mayoor A.H.D. Supit
Philip F.L.Sigar
Dr. A.B. Andu
P.F. Ruata
G.S. Ruata

*/ Tokoh Militer Minahasa Masa Hindia Belanda
Mayoor Bintang T.H.W. Dotulong
Kapitein Benjamin Sigar
Hendrik Werias Supit
Letkol. KNIL Dr. J.A.J. Kawilarang
Majoor KNIL A.H.H. Kawilarang
Majoor KNIL B.T. Walangitang
Kopral Gosal - Zeven Provincien
Bintara Kelasi Ch. Kawilarang - Zeven Provincien
Petrus Kaparang

*/ Tokoh Pergerakan Minahasa pra-Proklamasi RI
Dr. Paul Pinontoan
J. Pangemanan
dr. R.C.L. Senduk
Frits H. Laoh
J.U. Mangowal
Dr. Roland Tumbelaka
Dr. W.J.Th. Tangkau
A.J. Supit
A.B.H. Waworuntu, Sr.

*/ Tokoh Pergerakan Minahasa Masa Kemerdekaan Indonesia
Dr. G.S.S.J. RatuLangie (Sam) - Pahlawan nasional Indonesia
Mr. Alex A. Maramis
Arnold I.Z. Mononutu
Wim S.T. Pondaag
L.N. Palar (Babe Palar)
A.R.S.D. Ratulangi (Bart Ratulangi)
P.N. Pantouw
Otto Rondonuwu
Arie F. Lasut - Pahlawan nasional Indonesia

*/ Tokoh Peristiwa Merah Putih 1946 & Pergerakan Kemerdekaan Indonesia di Minahasa
Letkol TNI Anumerta Ch. Ch. Taulu
B.W. Lapian
Kapten S.D. Wuisan
Lexie Anes
Kapten No' Korompis
Freddy H.L.W. Mongdong
Mayor A.H. Mengko

*/ Tokoh Pergerakan Kebangsaan Minahasa Masa Perang Kemerdekaan Indonesia
Prof. Dr. S.J. Warouw - Federalis
Prof. Dr. V.L. Ratumbuysang - Federalis
Prof. Dr. R.D. Kandou - Federalis
Jan Maweikere - Twapro
F.A.P. Pitoy - Twapro

*/ Pahlawan Nasional Indonesia
DR. G.S.S.J. Ratulangi (Sam Ratulangi)
Maria Walanda-Maramis
Arie F. Lasut
R. Wolter Mongisidi
Pierre A. Tendean

*/ Tokoh Militer Minahasa dalam Republik Indonesia
Mayor Daan Mogot
Kol. Evert Langkay
Letkol Jan Rappar
Letkol Adolf G. Lembong
Willy Pesik
Lettu (Pnb) Jan Londa
Letkol (L) J.H. Tamboto
Mayjen TNI H.V. Worang
Mayjen TNI Piet Ngantung
Brigjen TNI Piet Mamahit
Mayjen TNI Empie Y. Kanter
Laksma TNI Frederik Sumanti
Laksma TNI Frits Suak
Robert Wolter Mongisidi
Brigjen TNI Willy Lasut GA
Letjen TNI G.H. Mantik
Herman Runturambi
Kapten (Anumerta) C.Z.I. Pierre A. Tendean - Pahlawan nasional Indonesia
Letjen TNI Purn. Arie J. Kumaat

*/ Tokoh Politik Nasional Indonesia (Menteri Kabinet RI & NIT)
Mr. A.A. Maramis
Frits H. Laoh
Ir. Herling Laoh
Arnold I.Z. Mononutu
Frans I. Umbas (Nyong)
Gustaaf A. Maengkom (Utu')
Ir. Fred J. Inkiriwang
Ds. W.J. Rumambi (Wim)
H.A. Pandelaki
J.D. Massie
Prof. Dr. Med. S.J. Warouw
Henk Rondonuwu
E. Katoppo
G.R. Pantouw (Udo)
Drh. W.J. Ratulangi
Mr. S.S. Pelengkahu
E.D. Dengah

*/ Pahlawan Permesta
H.N. Ventje Sumual
Alex E. Kawilarang
Joop F. Warouw
D.J. Somba (Yus)
Arie W. Supit
Laurens F. Saerang
Mayor Lukas J. Palar
J.W. Gerungan (Dei)
Daan E. Mogot
dr. O.E. Engelen
Jonkhy R. Kumontoy
Sam Karundeng
Daan Maukar

*/ Tokoh Politik Minahasa Masa Republik Indonesia
Dicky A. Th. Gerungan
P.M. Tangkilisan
H.C. Mantiri
E.H.W. Pelengkahu
R.C.L. Lasut
H.R. Ticoalu
M.H.W. Dotulong
O.F. Pua
E. Kandou (Nus)
Frits Sumampouw
Karel L. Senduk
F.J. Tumbelaka (Broer)
Drs. A.J. Sondakh

*/ Tokoh Agama Minahasa
Adrianus Angkouw
Silvanus Item
Lambertus Mangindaan
Simon Tumbelaka
Ds. A.Z.R. Wenas
Ds. R.M. Luntungan
Ds. Dirk J. Lumenta
Kilala Tilaar
Yesaya Runtuwailan
Mgr. Th. Lumanauw

*/ Tokoh Wanita Minahasa
Wilhelmina Warokka (Mien)
Ny. Maria Y. Walanda-Maramis
Stien Adam
Johana Masdani-Tumbuan
Ny. S.K. Pandean
Dr. Marie Thomas
Dr. Anna Warouw
Dr. Dee M.A. Weydemuller
Prof. Dr. Annie Abbas-Manopo
Ny. A. M. Waworoentoe (Tine)
Antonetee Waroh
Tine Lumentut

*/ Tokoh Pendidikan & Budaya Minahasa
Dr. Arnold Mononutu - Dokter pertama dari Minahasa
A. Pandelaki - Direktur orang Minahasa pertama dari Normaal School Kuranga
F.D.J. Pangemanann - Perintis novel populer Melayu/Indonesia
Paulus Q.R. Supit - Sastrawan Balai Pustaka
Dr. M.R. Dajoh - Tokoh sastrawan Pujangga Baru Indonesia dari Minahasa
Henk Ngantung - Pelukis Indonesia
Nelwan Katuuk - Tokoh kesenian Minahasa
H.M. Taulu - Tokoh sejarahwan Minahasa
F.S. Watuseke - Tokoh sejarahwan Minahasa
W.B. Politon - Tokoh pendidikan Minahasa
Jan G. Mangindaan - Tokoh Sejarah & Budaya Minahasa
John F. Malonda - budayawan Minahasa
E. Katoppo - Tokoh Pendidikan Minahasa
Prof. Mr. G.M.A. Ingkiriwang - Tokoh pendidikan tinggi
Eliezer Karundeng - Tokoh stenografi Indonesia taraf internasional
A.B.J. Tengker - Tokoh pendidikan Indonesia
Prof. Dr. E.K.M. Masinambow
Alexander Wetik
Tarcy Paat

*/ Tokoh Pers Minahasa
O.H. Pantouw
Frans S. Mendur
Alex I. Mendur
Wolter Saerang
Ch. A. Rondonuwu
H.G. Rorimpandey (Rorim)
Eric F.H. Samola

*/ Tokoh Olahraga Minahasa
Anton Najoan
E.A. Mangindaan
Boy Bolang
Robbie Mandagie
Theo Mandagie
Woddie Mandagie


Bibliografi

Lampiran
- Ringkasan Pengertian Nama-nama Keluarga (Fam) orang Minahasa
- Kronologi/Sejarah Minahasa
- Daftar Kata & Singkatan

=====================================================================

Untuk informasi tiap tokoh, formatnya:
- satu halaman untuk foto diri (post card), di bawahnya tercantum nama populer, tahun hidup, tokoh bidang apa.
- satu halaman untuk biodata
- 1-4 halaman untuk biografi, dengan set: kelahiran/keluarga, kehidupan masa kecil, sekolah, peranan-peranan yang membuatnya terkenal, kelebihan/segi positif, kekurangan/segi negatif dari tokoh ybs, saat meninggal, keluarga yang ditinggalkannya, dll.
- satu/dua halaman untuk foto-foto ybs
- satu halaman atau lebih untuk slagbom/silsilah keluarga.
-

====================================================================
Contoh:


Mayor Daan Mogot
(1928-1946)
Pendiri dan Direktur Pertama Akademi Militer Tangerang

=========================================================

BIODATA SINGKAT

  • Nama : Elias Daniel Mogot
  • Nama populer : Mayor Daan Mogot
  • Tempat/tgl lahir : Manado, 28 Desember 1928
  • Tempat/tgl meninggal : Tangerang, 25 Januari 1946
  • Keluarga: Ayah : Nicolaas Mogot (Nico)
  • Ibu : Emilia Inkiriwang (Mien)
  • Saudara : Kakak: Evert, Lilly, Hetty, Eddy Adik : Fietje, Tilly


Pengalaman:

  • 1942-1943 Anggota Seinen Dojo angkatan pertama;
  • 1943 Anggota Pembela Tanah Air (PETA) angkatan ke-1;
  • 1943-1944 Shodancho PETA di Bali;
  • 1944-1945 Staf Markas PETA (Gyugun Sidobu) di Jakarta;
  • 1945 Perwira pada Resimen IV/Tangerang (pangkat Mayor);
  • 1945-1946 Pendiri/Direktur pertama Akademi Militer Tangerang (MAT)
============================


Tahun 1942 ia menjadi pelatih anggota PETA di Bali & Jakarta. Setelah Perang Dunia ke-2 selesai, ia menjadi Komandan TKR di Jakarta dengan pangkat Mayor. Bulan November 1945 menjadi pendiri sekaligus Direktur Pertama Akademi Militer Tangerang (MAT) dalam usia 17 tahun. Ia gugur di Hutan Lengkong bersama 36 orang lainnya dalam pertempuran melawan tentara Jepang saat hendak melucuti senjata mereka di Hutan Lengkong di Tangerang.

Daan Mogot lahir di Manado pada tanggal 28 Desember 1928 dari pasangan Nicolaas Mogot dan Emilia Inkiriwang (Mien) dengan nama Elias Daniel Mogot. Ayahnya ketika itu adalah Hukum Besar Ratahan. Ia anak kelima dari tujuh bersaudara. Saudara sepupunya antara lain Kolonel Alex E. Kawilarang (Panglima Siliwangi, serta Panglima Besar Permesta) dan Irjen. Pol. A. Gordon Mogot (mantan Kapolda Sulut).

Pada tahun 1939, yaitu ketika ia berumur 11 tahun, keluarganya pindah dari Manado ke Batavia (Jakarta sekarang) dan menempati rumah di jalan yang sekarang bernama Jalan Cut Meutiah – Jakarta Pusat. Di Batavia, ayahnya diangkat menjadi anggota VOLKSRAAD (Dewan Rakyat masa Hindia-Belanda). Kemudian ayahnya diangkat sebagai Kepala Penjara Cipinang.

Pada masa Pendudukan Jepang, ia masuk dalam organisasi militer pribumi bentukan Jepang di Jawa, yaitu Pembela Tanah Air atau PETA. Waktu itu tahun 1942, ia menjadi anggota PETA angkatan pertama. Sebenarnya usia Daan Mogot belum memenuhi syarat yang ditentukan pihak Jepang yakni 18 tahun. Waktu itu ia berumur 14 tahun.

Karena prestasinya, ia diangkat menjadi pelatih anggota PETA di Bali, kemudian dipindahkan di Jakarta. Semasa di Bali, ia mendapatkan dua sahabat sejati yaitu Kemal Idris dan Zulkifli Lubis.

Mereka yang berasal dari Seinen Dojo oleh instruktur Jepang diangkat sebagi Instruktur Pembantu. Sebab, latihan yang akan diberikan kepada mereka jauh lebih ringan dari latihan yang pernah diterima pada masa Seinen Dojo di Tangerang. Pendidikan dan latihan itu dapat terlaksana sampai empat angkatan. Angkatan pertama mulai bulan Desember 1943 dan angkatan keempat, terakhir selesai bulan Juli 1945, sebelum Jepang takluk pada Sekutu tanggal 15 Agustus 1945.

Ada 50 orang yang diambil dari peserta latihan angkatan pertama untuk mengikuti pendidikan “guerilla warfare” di bawah pimpinan Kapten Yanagawa. Di antara mereka yang ikut latihan khusus itu adalah Daan Mogot, Kemal Idris, Zulkifli Lubis, Kusno Wibowo, Sabirin Mukhtar, Syatibi dan Effendi. Jenis latihan yang diberikan antara lain bagaimana cara memelihara burung merpati, karena burung itu dapat dipergunakan untuk alat komunikasi. Di samping itu mereka dilatih bagaimana menggunakan senjata yang baik untuk menghadapi lawan.

Setelah ke-50 orang itu dilantik menjadi perwira, mereka tidak lagi bertugas sebagai Instruktur Pembantu, melainkan menjadi Shodancho.

Setelah dilantik menjadi perwira PETA, masing-masing perwira dikembalikan ke daerah asalnya. Di Bali, Daan Mogot, Zulkifli Lubis dan Kemal Idris bersama beberapa perwira PETA lainnya mendirikan serta melatih para calon PETA di sana. Alasan Jepang mendirikan PETA di Bali, karena Bali dianggap merupakan daerah pertahanan dan tempat pendaratan. Untuk itu kekuatan dipersiapkan, terutama di daerah Nagara dan Klungkung. Jepang memberikan kepercayaan kepada Daan Mogot melatih di Tabanan, Kemal Idris di Nagara dan Zulkifli Lubis di Klungkung. Sekalipun ketiga sahabat itu terpisah-pisah tempat tugasnya, namun mereka selalu mengadakan kontak, baik membicarakan hal yang berhubungan dengan latihan maupun tentang nasib rakyat yang sedang menderita di bawah telapak penjajah. Kegiatan latihan yang spesifik saat itu ialah mempersiapkan pertahanan guna menghadapi serangan musuh di pantai. Selama setahun para Shodancho di Bali menjalankan tugas dengan baik. Tahun selanjutnya mereka harus berpisah. Empat orang Shodancho harus kembali ke Jawa, sedangkan Daan Mogot, Zulkifli Lubis dan Kemal Idris yang tetap tinggal. Mereka bertindak sebagai instruktur PETA, memberikan latihan kepada calon-calon perwira hingga mereka mahir dalam berbagai bidang ketentaraan.

Pada tahun 1945 ketika Republik Indonesia diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945, Daan Mogot menjadi salah seorang tokoh pemimpin Barisan Keamanan Rakyat (BKR) dan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dengan pangkat Mayor. Ini suatu keunikan pada masa itu, Mayor Daan Mogot baru berusia 16 tahun!

Di sana Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang dibentuk pada tanggal 23 Agustus 1945 mendirikan markasnya di Jalan Cilacap No. 5 untuk daerah Keresidenan Jakarta, empat hari sesudah pembentukannya. Moefreini Moe’min, seorang bekas syodancho dari Jakarta Daidan I ditunjuk sebagai pimpinannya. Sejumlah perwira yang bergerak di situ adalah Singgih, Daan Yahya, Kemal Idris, Daan Mogot, Islam Salim, Jopie Bolang, Oetardjo, Sadikin (Resimen Cikampek), Darsono (Resimen Cikampek), dan lain-lain.

Daan Mogot memang terkenal dalam sejarah jaman revolusi perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada pertempuran di hutan Lengkong-Serpong Tangerang Banten, ketika Taruna Akademi Militer Tangerang yang dipimpinnya berusaha merebut senjata dari pihak tentara Jepang tanggal 25 Januari 1946.

Ironisnya, sementara ia berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia bahkan rela gugur di medan pertempuran, ayahnya tewas dibunuh para perampok yang menganggap ”orang Manado” (orang Minahasa) sebagai londoh-londoh (antek-antek) Belanda.

Suatu ketika, Mayor Daan Mogot bertemu dengan sepupunya Alex Kawilarang. Dengan mengenakan peci hijau, ia menuruni sepeda motornya. Pemuda berusia 17 tahun itu kemudian dijemput oleh Alex di pinggir jalan, dan ia pun menunjukkan muka gembira. Pertemuan yang hangat terjadi. Kemudian mereka mengobrol di dalam rumah. Daan Mogot bercerita bahwa ia sekarang tinggal di Jalan Asem Baru, menumpang pada keluarga Singgih. Segera disambungnya cerita mengenai perjuangan. Tentang serangan di Pondok Gede. Ia juga cerita tentang ayahnya yang baru saja dibunuh, tidak diketahui dengan pasti oleh siapa. “Banyak benar anarki terjadi di sini,” kata Alex. “Memang, itu yang mesti torang bereskan. Oleh karena itu, senjata harus berada di torang pe tangan” sambung Daan. Katanya lagi kepada Alex, “Torang, orang Manado, jangan berbuat yang bukan-bukan. Awas, hati-hati! Torang musti benar-benar menunjukkan, di pihak mana kita berada.”

Lalu Daan bercerita pula mengenai pemikirannya tentang sebuah perguruan untuk mendidik para pemuda yang mau menjadi tentara, yang kemudian ternyata terlaksana, ialah didirikannya “militer akademi” (akademi militer) pada tanggal 18 November 1945 di Tangerang.


Sebagai sponsor terwujudnya gagasan mendirikan sekolah akademi militer, maka tanggal 18 November 1945 ia dilantik menjadi Direktur Militer Akademi Tangerang (MAT) pada waktu ia berusia 17 tahun. Sebenarnya di Yogyakarta juga berdiri Militer Akademi Yogya (MA Yogya) hampir bersamaan, yaitu tanggal 5 November 1945. Ide mendirikan sebuah akademi militer ini memang seperti yang diangan-angankan oleh Daan Mogot.

Ide pendirian Militer Akademi Tangerang itu datang dari empat orang: Daan Mogot, Kemal Idris, Daan Yahya dan Taswin.

Pada tahap awal ada 180 orang Calon Taruna pertama yang dilatih. Di antara mereka terdapat mahasiswa yang berasal dari Sekolah Kedokteran Ika Daigaku Jakarta. Ada di antara mereka yang menjadi komandan peleton, komandan kompi bahkan komandan batalyon. Sejumlah perwira dan bintara yang menjadi pelatih/instruktur MAT antara lain Kapten Taswin, Kapten Tommy Prawirasuta, Kapten Rukman, Kapten Kemal Idris, Kapten Oscar (Otje) Mochtan, Kapten Jopie Bolang, Kapten Endjon Djajaroekmantara, Sersan Bahruddin, Sersan Sirodz. Di Resimen Tangerang Taswin bertugas di staf sedangkan Kemal Idris di pasukan.

Pada tanggal 24 Januari 1946 Mayor Daan Yahya menerima informasi bahwa pasukan NICA Belanda sudah menduduki Parung dan akan melakukan gerakan merebut depot senjata tentara Jepang di depot Lengkong (belakangan diketahui bahwa Parung baru diduduki NICA bulan Maret 1946). Tindakan-tindakan provokatif NICA Belanda itu akan mengancam kedudukan Resimen IV Tangerang dan Akademi Militer Tangerang secara serius. Sebab itu pihak Resimen IV Tangerang mengadakan tindakan pengamanan. Mayor Daan Yahya selaku Kepala Staf Resimen, segera memanggil Mayor Daan Mogot dan Mayor Wibowo, perwira penghubung yang diperbantukan kepada Resimen IV Tangerang.

Tanggal 25 Januari 1946 lewat tengah hari sekitar pukul 14.00, setelah melapor kepada komandan Resimen IV Tangerang Letkol Singgih, berangkatlah pasukan TKR dibawah pimpinan Mayor Daan Mogot dengan berkekuatan 70 taruna MA Tangerang (MAT) dan delapan tentara Gurkha. Selain taruna, dalam pasukan itu terdapat beberapa orang perwira yaitu Mayor Wibowo, Letnan Soebianto Djojohadikoesoemo dan Letnan Soetopo. Kedua Perwira Pertama ini adalah perwira polisi tentara (Corps Polisi Militer/CPM sekarang). Ini dilakukan untuk mendahului jangan sampai senjata Jepang yang sudah menyerah kepada sekutu diserahkan kepada KNIL-NICA Belanda yang waktu itu sudah sampai di Sukabumi menuju Jakarta.

Setelah melalui perjalanan yang berat karena jalannya rusak dan penuh lubang-lubang perangkap tank, serta penuh barikade-barikade, pasukan TKR tersebut tiba di markas Jepang di Lengkong sekitar pukul 16.00. Pada jarak yang tidak seberapa jauh dari gerbang markas, truk diberhentikan dan pasukan TKR turun. Mereka memasuki markas tentara Jepang dalam formasi biasa. Mayor Daan Mogot, Mayor Wibowo dan taruna Alex Sajoeti berjalan di muka dan mereka bertiga kemudian masuk ke kantor Kapten Abe. Pasukan Taruna MAT diserahkan kepada Letnan Soebianto dan Letnan Soetopo untuk menunggu di luar.

Gerakan pertama ini berhasil dengan baik dan mengesankan pihak Jepang. Di dalam kantor markas Jepang ini Mayor Daan Mogot menjelaskan maksud kedatangannya. Akan tetapi Kapten Abe meminta waktu untuk menghubungi atasannya di Jakarta, karena ia mengatakan belum mendapat perintah atasannya tentang perlucutan senjata. Ketika perundingan berjalan, rupanya Lettu Soebianto dan Lettu Soetopo sudah mengerahkan para taruna memasuki sejumlah barak dan melucuti senjata yang ada di sana dengan kerelaan dari anak buah Kapten Abe. Sekitar 40 orang Jepang disuruh berkumpul di lapangan.

Kemudian secara tiba-tiba terdengar bunyi tembakan, yang tidak diketahui dari mana datangnnya. Bunyi tersebut segera disusul oleh rentetan tembakan dari tiga pos penjagaan bersenjatakan mitraliur yang tersembunyi yang diarahkan kepada pasukan taruna yang terjebak. Serdadu Jepang lainnya yang semula sudah menyerahkan senjatanya, tentara Jepang lainnya yang berbaris di lapangan berhamburan merebut kembali sebagian senjata mereka yang belum sempat dimuat ke dalam truk.

Dalam waktu yang amat singkat berkobarlah pertempuran yang tidak seimbang antara pihak Indonesia dengan Jepang, Pengalaman tempur yang cukup lama, ditunjang dengan persenjataan yang lebih lengkap, menyebabkan Taruna MAT menjadi sasaran empuk. Selain senapan mesin yang digunakan pihak Jepang, juga terjadi pelemparan granat serta perkelahian sangkur seorang lawan seorang.

Tindakan Mayor Daan Mogot yang segera berlari keluar meninggalkan meja perundingan dan berupaya menghentikan pertempuran namun upaya itu tidak berhasil. Dikatakan bahwa Mayor Daan Mogot bersama rombongan dan anak buahnya Taruna Akademi Militer Tangerang, meninggalkan asrama tentara Jepang, mengundurkan diri ke hutan karet yang disebut hutan Lengkong.

Taruna MAT yang berhasil lolos menyelamatkan diri di antara pohon-pohon karet. Mereka mengalami kesulitan menggunakan karaben Terni yang dimiliki. Sering peluru yang dimasukkan ke kamar-kamarnya tidak pas karena ukuran berbeda atau sering macet. Pertempuran tidak berlangsung lama, karena pasukan itu bertempur di dalam perbentengan Jepang dengan peralatan persenjataan dan persediaan pelurunya amat terbatas.

Dalam pertempuran, Mayor Daan Mogot terkena peluru pada paha kanan dan dada. Tapi ketika melihat anak buahnya yang memegang senjata mesin mati tertembak, ia kemudian mengambil senapan mesin tersebut dan menembaki lawan sampai ia sendiri dihujani peluru tentara Jepang dari berbagai penjuru.

Akhirnya 33 taruna dan 3 perwira gugur dan 10 taruna luka berat serta Mayor Wibowo bersama 20 taruna ditawan, sedangkan 3 taruna, yaitu Soedarno, Menod, Oesman Sjarief berhasil meloloskan diri pada 26 Januari dan tiba di Markas Komando Resimen TKR Tangerang pada pagi hari. Para perwira dan taruna Akademi Militer Tangerang (MAT) yang gugur pada peristiwa itu adalah sebagai berikut:


Pasukan Jepang bertindak dengan penuh kebengisan, mereka yang telah luka terkena peluru dan masih hidup dihabisi dengan tusukan bayonet. Ada yang tertangkap sesudah keluar dari tempat perlindungan, lalu diserahkan kepada Kempetai Bogor. Beberapa orang yang masih hidup menjadi tawanan Jepang dan dipaksa untuk menggali kubur bagi teman-temannya. Sungguh suatu kisah yang pilu bagi yang masih hidup tersebut. Dalam keadaan terluka, ditawan, masih dipaksa menggali kuburan untuk para rekan-rekannya sedangkan nasib mereka masih belum jelas mau diapakan.

Tanggal 29 Januari 1946 di Tangerang diselenggarakan pemakaman kembali 36 jenasah yang gugur dalam peristiwa Lengkong disusul seorang taruna Soekardi yang luka berat namun akhirnya meninggal di RS Tangerang. Mereka dikuburkan di dekat penjara anak-anak Tangerang. Selain para perwira dari Tangerang, Akademi Militer Tangerang, kantor Penghubung Tentara, hadir pula pada upacara tersebut Perdana Menteri RI Sutan Sjahrir, Wakil Menlu RI Haji Agoes Salim yang puteranya Sjewket Salim ikut gugur dalam peristiwa tersebut beserta para anggota keluarga taruna yang gugur. Pacar Mayor Daan Mogot, Hadjari Singgih memotong rambutnya yang panjang mencapai pinggang dan menanam rambut itu bersama jenasah Daan Mogot. Setelah itu rambutnya tak pernah dibiarkan panjang lagi.


Lihat publikasinya di Wikipedia: Daan Mogot
http://id.wikipedia.org/wiki/Daan_Mogot

Bila ada yang berminat menambahkan nama dalam buku saya ini (sekarang sudah sekitar 700 halaman), tolong hubungi saya di e-mail: talumewo@yahoo.com atau menghubungi orang yang kenal dengan saya.

===================================================================
"Tabea Waya!
Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawan, kisah dan kedudukan kaumnya di sepanjang masa!
Minahasa adalah bangsa yang basar!
Karena itu hargai akang torang pe Dotu-dotu deng samua yang dorang kase tinggal for torang!
Pakatuan wo pakalawiren!
Sa esa cita sumerar cita, sa cita sumerar esa cita! Kalu torang bersatu torang musti bapencar, biar lei torang bapencar torang tetap satu!
I Yayat U Santi!"
===================================================================

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar