Bangsa Minahasa

Setiap bangsa yang ingin mempertahankan jati dirinya, harus menghargai warisan suci tradisi dan budaya dari para leluhurnya; Kita (bangsa Minahasa) harus memelihara dan mempertahankan tradisi dan budaya bangsa Minahasa dengan segenap kemampuan dan semangat, karena semangat itu sendiri tidak lain mengandung tradisi dan budaya Minahasa. (Dr. Sam Ratulangi: Fikiran - 31 Mei 1930)

Saya tidak akan mempermasalahkan apakah keberadaan bangsa kami Minahasa disukai atau tidak, karena itu adalah permasalahan teoritis. Bagi saya dan bangsa saya Minahasa, sudah jelas, bahwa kami memiliki hak untuk eksis.
Jadi, tugas kami adalah bagaimana menjamin kelanjutan eksistensi bangsa Minahasa ini, dan sedapat mungkin memperkecil penetrasi asing. Kami berusaha untuk merumuskan suatu tujuan yang sesuai dengan kecenderungan-kecenderungan rakyat kami dalam menjalankan tugas tadi. Dan agar usaha-usaha kami itu dapat diterima dan dihargai, kita perlu mengenal hal-hal yang mendasarinya, yaitu: posisi Minahasa selama ini terhadap negara-negara sekitarnya.
("Het Minahassisch Ideaal" / Cita-cita Minahasa oleh DR. GSSJ Ratu Langie, ‘s-Gravenhage, Belanda - 28 Maart 1914)

Selasa, 09 Desember 2008

Galeri Foto Minahasa: Zendeling J.G. Schwarz Tempo Doeloe

Menyambut 75 Tahun GMIM Bersinode, di bawah ini saya menghadirkan foto-foto pekabaran injil tempo doeloe.

Dalam serial ini diangkat lukisan/foto dari Langowan.

Zendeling (Penginjil) J.F. Riedel dan J.G. Schwarz

Rumah gereja GMIM Sentrum Langowan tempo doeloe.

Kubur J.G. Schwarz di Langowan.
Terletak di samping timur Lapangan GMIM Schwarz.

Gereja dan rumah dari zendeling J.G. Schwarz di Langowang tahun 1847 menurut L.J. van Rhijn. Perhatikan tinggi tubuh J.G. Schwarz yang pendek (menurut sebuah tulisan dari seorang kawan Schwarz, mengonfirmasikan hal ini) dan dibandingkan dengan penduduk asli Langowan saat itu.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar